Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

BOLA NASIONAL

BOLA INGGRIS

POPULER

SOROTAN

SEA GAMES

Main Olahragaonline.com

Tampilkan postingan dengan label KONI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KONI. Tampilkan semua postingan

Jika Jateng Gagal, Sumsel dan Jatim Siap Gelar PON Remaja

Minggu, 13 November 2016

JAWA Tengah (Jateng) yang didaulat menjadi tuan rumah kesulitan setelah keluarnya surat pembatalan dari Kemenpora. Wacana itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi KONI Pusat dengan PB/PP Induk Organisasi Olahraga di Gedung Serbaguna Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (11/11). Dua daerah lain Sumsel dan Jatim siap menggantikan Jateng.

"Pelaksanaan bisa dialihkan ke Sumsel. Kebetulan mereka bersiap untuk Asian Games. PON Remaja ini milik KONI Pusat, KONI Pusat harus bisa tentukan. Jangan terpaku pada Jateng sebagai pelaksana," ungkap Arsyad Ahma
din, Sekjen Persatuan Kriket Indonesia (PCI).

Rapat yang dihadiri perwakilan cabang olahraga kemarin memang khusus menyikapi PON Remaja II 2017 dan evaluasi PON 2016 Jawa Barat serta membahas PON 2020 Papua. PON Remaja menjadi perhatian serius karena Pemerintah melalui Kemenpora mengeluarkan surat tidak akan keluarkan rekomendasi kegiatan milik KONI Pusat tersebut. Alasannya, Pemerintah sedang efisiensi karena di tahun yang sama Pemerintah punya gawe Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) yang kebetulan dilaksanakan di Jateng juga. Secara umur, Popnas dan PON Remaja hampir sama.

Dalam pertemuan kemarin, perwakilan cabang olahraga yang hadir sepakat PON Remaja tetap digelar meski tanpa rekomendasi Pemerintah. Sikap ini dituangkan dalam surat pernyataan dukungan pelaksanaan PON Remaja II. Nah, Sumsel disebut layak menjadi penyelenggara jika Jateng kesulitan menutup biaya operasional pelaksanaan.

"SK 61 tentang pelaksanaan PON Remaja belum dicabut tapi sudah keluar surat edaran pembatalan. Jadi kami merasa dilumpuhkan karena semua sudah disiapkan. Kami juga waswas karena seleksi atlet telah dilakukan. Jika seleksi dilaksanakan sementara PON Remaja dibatalkan nanti takutnya jadi temuan BPK," jelas Ketua KONI Jateng Hartono.

Diakui Hartono, Dispora Jateng sudah kirim surat ke Menpora minta ketegasan. Tapi pihaknya tak tahu karena tak ada tembusannya. "Prinsipnya KONI Jateng tetap siap tinggal menunggu arahan dari KONI Pusat dan memikirkan bagaimana mendanai sebaik-baiknya. Saya sudah ke sponsor tapi gak mudah meyakinkan mereka," ucapnya.

Ketua KONI Pusat Tono Suratman perlu mendengarkan suara dari cabang olahraga karena merekalah yang akan meramaikan. Sikap para perwakilan cabang olahraga ini menguatkan sikap dari KONI Daerah se Indonesia. KONI Pusat perlu akomodir sikap mereka karena PON Remaja memiliki peran penting dalam pembinaan. PON Remaja untuk menjaring atlet berpotensi dikirim mengikuti even di atasnya berupa Asian Youth Games dan Olympic Youth Games.

Untuk membahas hal ini, menurut Tono pihaknya akan segera bertemu Menpora. “Sikap cabang olahraga dan KONi Daerah penting sebagai bahan pembahasan nanti, Soal tempat alternatif jika Jateng gak bisa ada dua tempat. Di Indonesia Timur dan di Indonesia Barat. Kami sudah komunikasi dengan Ketu KONI yang dijabat gubernurnya," kata Tono.

Soal Jatim siap menggelar PON Remaja menggantikan Jateng, hal itu terungkap hasil pertemuan Pengurus Pengprov KONI Jatim dengan Ketua KONI Pusat Tono Suratman pada Kamis (10/11) lalu. Pertemuan itu tertutup, diduga salah satu yang dibahas adalah kesediaan Jatim menggelar even tiga tahunan itu. Sebelumnya Jatim adalah tempat penyelenggara PON Remaja I. Ketika hal itu dikonfirmasikan dengan Tono Suratman, ia tak bersedia menjawab pertanyaan tersebut.

“Kita lihat nanti daerah mana yang lebih siap untuk menggantikan Jateng. Bila Jateng benar-benar tidak siap. Segala kemungkinan masih bisa terjadi,” kata Tono. Jordan


Promosi & Sosialisasi PON Vaganza 2016, di 12 Kota

Jumat, 29 April 2016

SOSIALISASI dan Promosi Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX di Jawa Barat, September 2016, mulai dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan "PON Vaganza 2016" di 12 kota Indonesia. Dalam hal ini Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat.

Menurut Wakil Ketua Umum KONI Pusat, Inugroho, merupakan salah satu ajang untuk lebih mengenalkan lagi PON 2016. "Sosialisasi kami lakukan agar masyarakat ikut terbawa secara emosional, jadi tidak hanya atlet saja. Yang jelas kami ingin PON 2016 di Jawa Barat gaungnya bisa diketahui masyarakat," katanya di sela sponsorship gathering "PON Vaganza 2016" di Kantor KONI Pusat, Senayan, Jakarta, Kamis (28/4), seperti dikutip dari Antara.

Adapun 12 kota yang akan menjadi bagian dari PON Vaganza itu adalah Surabaya, Semarang, Medan, Palembang, Jakarta, Banjarmasin, Samarinda, Makassar, Kendari, Manado, Jayapura dan Bandung. Demi kelancaran sosialisasi PON 2016, kata Inugroho, pihaknya akan menjalin kerja sama dengan KONI daerah tempat sosialisasi dilakukan. Selain itu, pihaknya juga memberikan kesempatan kepada sponsor untuk terlibat secara langsung dalam sosialisasi bersamaan dengan pengenalan produknya.

Dengan banyaknya kota yang menjadi sasaran sosialisasi, pihak KONI menilai akan banyak keuntungan baik untuk PON 2016 itu sendiri maupun pengenalan produk yang akan menjadi sponsor PON XIX. PON XIX itu sendiri nantinya akan digelar sedikitnya 14 kota dan kabupaten di Jawa Barat. "PON Vaganza ini merupakan salah satu cara kami untuk membantu PB PON untuk lebih mengenalkan lagi PON 2016 di Jawa Barat. Kegiatan seperti ini baru pertama kali dilakukan. Salah satu dasarnya adalah pelaksanaan PON sebelumnya," kata Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman.

Perwakilan dari PON Vaganza 2016, Fakhruddin Rusyibani mengatakan kegiatan itu akan dimulai di Surabaya, Jawa Timur 24 Juli nanti. Surabaya akan menjadi pembuka. Selanjutnya dalam setiap pekan akan dilanjutkan. Dan Bandung akan menjadi pusat atau akhir dari sosialisasi tepatnya satu pekan sebelum pembukaan PON 2016," katanya. Jordan

Tono Minta Pembina Olahraga Lebih Serius

Selasa, 08 Maret 2016

KETUA Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Mayjen TNI (Purn) Tono Suratman meminta semua pihak lebih serius lagi membina olahraga. Hal itu terkait adanya perubahan dan perkembangan pusat olahraga di berbagai belahan dunia. Kini diyakini bahwa olahraga sudah menjadi identitas bangsa untuk menunjukkan kemajuan yang dicapai suatu negara.

“Oleh karenanya olahraga membutuhkan penanganan yang serius. Sudah saatnya semua menerapkan kualitas sebagai acuan dalam penanganan olahraga. Baik dalam manajemen pengelolaan organisasi induk cabang olaharaga maupun pembinaan atlet,” ujar Tono Suratman dalam sambutannya pada Rapat Anggota KONI Pusat Tahun 2016 di Gedung Serbaguna Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (7/3).

Tono menambahkan kini harus meningkatkan kualitas pengurus dan pelatih, katanya, harus menjadi perhatian semua pihak. Selain itu pelayanan terhadap atlet juga harus benar-benar mencerminkan penghargaan terhadap anak bangsa Indonesia. Dengan demikian rasa nasionalisme akan semakin kuat dan dalam ternanam.

Pria pensiunan Bintang Dua ini mengingatkan, tantangan berat sudah menanti ke depan. Ada Olimpiade 2016 di Brasil, Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Tahun 2016 di Jawa Barat, SEA Games 2017 di Malaysia dan Asian Games XVIII Tahun 2018 di Indonesia.

Semua kendala dan tantangan itu bisa dilalui dengan hasil kegemilangan prestasi bila semua mendedikasikan segenap pikiran dan tenaga, hanya untuk membina dan meningkatkan prestasi, serta memberikan pelayanan terbaik kepada para atlet kebanggaan Indonesia. ”Seluruh program dan kegiatan harus dikerjakan dengan Cerdas, Keras, Tuntas dan dengan Ikhlas. Kepedulian dan kecintaan serta totalitas akan menambah percepatan prestasi olahraga bangsa ini,” tandasnya. Jordan

Ketum KONI Hadiri Rapat Anggota KOI

Selasa, 01 Maret 2016

KEHADIRAN Ketua KONI Tono Suratman terjadi pada acara Rapat Anggota KOI di Hotel Kartika Chandra Jakarta, Senin (29/2/2016), disambut baik sebagian besar anggota KOI. Menurut mereka ini adalah sejarah baru dan momentum terbaik bagi terciptanya harmonisasi dalam pembinaan olahraga di Tanah Air. Sebab, selama ini terjadi disharmonisasi hubungan KONI Pusat dan KOI.

Selain Tono, hadir pula Kepala Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Laksamana (Purn) Ahmad Sutjipto. ”Kami sangat bersyukur atas kehadiran Pak Tono Suratman dan Kasatlak Prima Pak Cip. Ini menandakan bahwa harmonisasi dalam pembinaan olahraga di Indonesia sudah terjalin. Ini pertanda angin baik bagi kita semua. Artinya, ke depan tidak ada lagi sekat antara KONI dan KOI,” tegas Wasekjen PB Kodrat, Hengki Silatang kepada wartawan.

Sebagaimana diketahui, selama ini hubungan antara kedua institusi olahraga di Indonesia itu agak kurang harmonis alias disharmonisasi. Adanya silang pendapat kerap terjadi. “Menyambut Asian Games 2018, hendaknya memang para stakeholder Indonesiaa harus bersinergi demi tercapainya sukses sebagai penyelenggara maupun prestasi,” ungkap pria yang juga praktisi olahraga ini.

Pria yang juga sebagai komentator tinju yang kerap menghiasi layar kaca di TV One ini menegaskan, sebaiknya ke depan hal-hal semacam ini tidak terjadi lagi. "Kalau hubungan antara pemimpin organisasi olahraga, macam KONI dan KOI selalu harmonis maka membangun dan membina olahraga tidak terlalu sulit karena bisa saling mengisi satu sama lain," tambah Hengky. Jordan


Tono Lantik Pengurus PP FPTI

Minggu, 14 Februari 2016

KETUA Umum KONI Tono Suratman melantik pengurus Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) periode 2015-2019 yang diketuai Faisol Riza. Faisol beserta jajarannya yang digelar di Gedung KONI Pusat, Senayan, Jumat (12/2/2016).

Faisol pada 12 Desember 2015 terpilih melalui Munaslub yang digelar di Hotel Century Park, Senayan. Dia mengalahkan dua kandidat lainnya yakni, Brigjen Boy Rafli dan Rubini Kertapati. Faisol menggantikan posisi ketua sebelumnya, Dhohir Farisi yang mengundurkan diri meski baru setahun menjabat.

Menurut Faisol rencana jangka pendeknya sesudah terpilih adalah mengembangkan sumber daya atlet, pelatih, wasit yang berkualitas. "Serta membangun dan menambah arena panjat tebing agar olahraga ini lebih memasyarakat," ujar lelaki asal Probolinggo ini. Dia berharap dengan upayanya ini, olahraga panjat tebing lebih dikenal masyarakat dan dapat meraih kesuksesan jika dikirim ke kejuaraan seperti Asian Games 2018 nanti.

Ia juga berjanji akan membangun pondasi yang kuat guna memajukan olahraga yang digandrungi anak muda ini. "Visi saya adalah membangun olahraga panjat tebing menjadikan olahraga mencapai prestasi dunia dan merakyat di Indonesia," tutur pria jebolan Universitas Gajah Mada ini.

“Kami sudah sepakat untuk bersama pengurus lainnya akan membangun komitmen bersama dengan pihak lain untuk kemajuan olahraga panjat tebing ini. Dan yang tak kalah penting adalah melaksanakan mananejemen terbuka,” tegasnya. Jordan


PESTI Terima Bantuan Peralatan dari KONI Pusat

Sabtu, 06 Februari 2016

UNTUK kali kedua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat kembali membagi-bagi peralatan berlatih dan bertanding pada cabang olahraga yang dipertandingkan pada Asian Games 2018 di Tanah Air meski saat ini mendapatkan sorotan terutama dari DPR.

Kali ini pemberian peralatan terakhir diberikan kepada cabang olahraga soft tenis dan secara simbolis diberikan oleh Sekjen KONI Pusat Hamidy kepada Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Soft Tenis Indonesia (PB PESTI) Martuama Saragi di Kantor KONI Pusat Jakarta, Kamis.

“Cabor Soft tenis akan dipertandingkan di Asian Games 2018. Kemenpora dan KONI Pusat berusaha memberikan dukungan. Yang kami lakukan saat ini hanya menyalurkan apa yang Kemenpora programkan,” kata Hamidy di sela penyerahan secara simbolis.

Hamidy menambahkan, peralatan untuk cabang olahraga tenis semuanya masih impor. Dengan demikian membutuhkan proses yang cukup panjang untuk pengadaannya. Namun, semuanya bisa diatasi setelah menggunakan sistem baru yaitu e-katalog. Dengan diberikannya bantuan peralatan latihan dan bertanding, Hamidy berharap tidak ada lagi masalah dalam pelatnas soft tenis untuk menghadapi Asian Games 2018.

Lebih lanjut ia menyatakan, peralatan dayung dan ski air saat ini masih dalam proses. Hal tersebut terjadi karena peralatan yang diberikan adalah barang impor dan membutuhkan waktu untuk mendatangkannya. “Barang sebenarnya sudah berada di Singapura. Kita masih menunggu. Yang jelas dengan sistem ini diharapkan tidak ada lagi keterlambatan dalam pengadaan alat latihan dan bertanding,” katanya.

Kesempatan sama, Ketua Umum PB Pesti Martuama Saragi mengaku sangat mengapresiasi bantuan yang diberikan pemerintah melalui KONI Pusat. Pihaknya berharap bantuan ini bisa memacu semangat atlet yang saat ini sudah mulai menjalani pemusatan latihan nasional.

PESTI saat ini atlet yang menjalani pelatnas sebanyak 10 atlet yang terdiri lima atlet putra dan lima putri. Selain latihan sesuai dengan program yang ditetapkan Satlak Prima, PB PESTI juga akan membawa atletnya menjalani try out di beberapa negara termasuk Jepang.

"Terima kasih kepada pemerintah melalui Kantor Menpora dan KONI Pusat. Dengan bantuan peralatan ini, kami yakin atlet-atlet semakin semangat berlatih dan bertanding sehingga target yang dibebankan pada Asian Games bisa tercapai yakni satu medali emas. Sementara pada Asian Games di Korea 2014 kami mampu membawa satu perak dan satu perunggu," harap Martuama. Jordan

Tono Berharap Pengurus KONI Mengabdi untuk Olahraga

Senin, 11 Januari 2016

KETUA Umum KONI Pusat Tono Suratman berharap jajaran pengurusnya yang baru dilantik, tidak menggunakan jabatan sebagai gagah-gagahan, namun untuk bekerja keras, karena ada pekerjaan rumah yang harus dilaksanakan dengan baik.

Ada tiga agenda penting yang dilakoni para atlet Indonesia, yakni menghadapi persiapan Olimpiade Brazil 2016, SEA Games Kuala Lumpur 2017, dan Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games ke 18 tahun 2018.

"Saya minta kepada semua jajaran para pengurus KONI Pusat, periode 2015-2019 tidak berpangku tangan. Mengingat sejumlah pekerjaan di depan mata harus dilaksanakan dengan baik dan benar. Terlebih lagi persiapan Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaran Asian Games. Diharapkan Indonesia sukses tuan rumah dan sukses prestasi," kata Tono Suratman dalam pidatonya, saat pengukuhan pengurus Komite Olahraga Nasional, periode 2015-2019 di Gedung Serbaguna, Senayan, Jakarta, Senin (11/1/2016 ) siang.

Terkait hal tersebut, menurut Tono, KONIakan siap membantu dan memberikan saran untuk segala persiapannya. "Untuk Asian Games kan tugasnya Satlak Prima, tetapi kami selalu membantu memberikan semua apa yang diinginkan oleh Satlak Prima.

Meski begitu KONI kata Tono Suratman tetap memberikan bantuan berupa saran seperti, "Contohnya kami sudah kerja sama dengan Korea Selatan. Mereka sudah ingin memberikan pelatih-pelatih untuk enam cabang olahraga yang berpotensi raih emas olimpiade seperti taekwondo, judo, badminton, panahan, gulat dan lainnya," ujar Tono.

Tono juga berharap pihak pemerintah melalui Satlak Prima, KONI provinsi maupun setiap cabang PB bekerja sama menciptakan altet-atlet elit karena belakangan prestasinya kurang begitu memuaskan. Ia juga mengapresiasi pengurus yang mau kerjasama dengan seluruh stakeholder olahraga, karena cabang olahraga membutuhkan pendanaan yang tidak kecil. Selain, untuk meningkatkan prestasi pada sejumlah multievent.

KONI Pusat memberikan seluas luasnya untuk PB dan Pengda melaksanakan Seleknas, hingga perekrutan atlet nantinya masuk dalam Pelatnas dibawah komando Satlak Prima. Dalam pengukuhan itu dihadiri Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang juga Ketua Umum PB Forki. Usai pelantikan seluruh undangan mengikuti rangkaian acara peresmian fitnes centre di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Jordan

Kepungurusan KONI Pusat Masa Bakti 2015-2019 Membengkak

Selasa, 05 Januari 2016

KETUA Umum KONI Pusat Tono Suratman mengumumkan kepengurusan baru periode 2015-2019 yang berjumlah sekitar 71 orang. Saat menggelar Natal Bersama KONI Pusat bersama para pengurus dan karyawan di Jakarta, Selasa (5/1/2016).

Direncanakan kepengurusan KONI Pusat ini akan dikukuhkan pada Senin (11/01/16) mendatang di Wisma Karsa Kantor Kemenpora. Menurut Tono sebagai lembaga independen, KONI Pusat tidak dilantik oleh Menpora, tetapi saya kukuhkan sendiri. “Saya berharap dengan kepengurusan baru ini, ada harmonisasi hubungan KONI dan KOI, karena ada beberapa pengurusan KONI juga pengurus di KOI,” ujarnya.

Beberapa pengurus KOI yang juga tergabung di kabinet Tono Suratman adalah Dodi Iswandi yang menjabat Wakil Sekjen. Dr Leane Suniar, dan Yohana Ambarwati. Pengurus kali ini merupakan gabungan dari pengurus induk cabor dan KONI Provinsi, serta beberapa pengurus dari kalangan militer.

Nama lain yang menghiasi kepengurusan KONI Pusat adalah mantan pebulutangkis dunia Icuk Sugiarto yang menjadi Wakil di Bidang Jahpelor (Kesejahteraan Pelaku Olahraga). Muka baru di Bidang Humas adalah Ketua Harian SIWO Pusat Gungde Arywangsa. Dan komentator tinju dunia yang kerap tampil di Tv One adalah H Hengky Silatang SH. Kedua pria ini menjabat sebagai wakil ketua bidang humas.

Menurut Tono susunan kepengurusan mereka yang tergabung sudah melalui uji kompetensi, sehingga mereka kami anggap professional di masing-masing bidangnya. “Saya berharap dengan kinerja sikap professional para pengurus, kinerja mereka di bidangnya akan berhasil. Dan hubungan harmonisasi antar lembaga dapat bersinergi,” harap Tono.

Hal lain yang dilakukan Tono saat menyusun kepengurusan itu bersama Formatur yang diketuai Jhon Lubis (KONIDA Sumut) dan Yohana Ambarwati (Sekjen IODI-dance sport) adalah diberlakukannya Fakta integritas agar ada evaluasi kinerja KONI Pusat ke depannya. “Agar kedepannya mereka yang tak mampu harus bersikap kesatria untuk mundur,” katanya. (Jordan)

KONI Pusat Salurkan Bantuan Peralatan

Senin, 28 Desember 2015

SEBANYAK 32 cabang olahraga mendapatkan bantuan berupa perlengkapan dan peralatan olahraga dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat di kantor KONI Pusat, Senayan, Jakarta, Senin (28/12/2015). Hal tersebut, sebagai bentuk kepedulian dan perhatian KONI Pusat terhadap para atlet dan cabang olahraga.

Ketua Umum KONI Pusat, Tono Suratman, usai membagikan bantuan berupa peralatan olahraga mengatakan, jika bantuan yang diberikan merupakan bentuk dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). "Penyerahan perlengkapan umum ini, buat atlet yang sudah masuk dalam SK 5. Sekalipun ini untuk program 2015, namun tidak terlambat. Lalu di 2016 akan datang lagi barang dengan E-katalog," kata Ketum KONI Pusat, Tono Suratman yang baru merayakan hari Natal, didampingi Sekretaris Kemenpora, Alfitra Salamm.

"Dengn terlaksananya bantuan ini, induk-induk olahraga diharapkan sudah bisa melengkapi program latihan untuk atlet. Sehingga ke depannya, tidak ada lagi keterlambatan pemberian bantuan serupa seperti ini," katanya.

Cabang olahraga yang mendapatkan bantuan, di antaranya yakni wushu, karate, menembak, golf dan takraw. Selain itu, ditambahkan Tono Suratman, hal yang sama dapat dirasakan atlet yang akal tampil di Olimpiade 2016, SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. Sebab dilanjutkannya, KONI Pusat juga menginginkan atlet meraih prestasi optimal bagi sang Merah-Putih. Apalagi, nantinya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Jakarta dan Palembang.

Menurut Tono untuk beberapa cabor Olimpiade juga sudah dapat, tapi kita masih upayakan untuk yang lainnya. "Sedangkan untuk E-katalog, akan kami bahas lagi di rapat anggota pada akhir Januari mendatang," tandasnya. Jordan

KONI Akhirnya Tanggalkan Ring Lima

Senin, 07 Desember 2015

AKHIRNYA pihak KONI Pusat mau merelakan logo 5 ring untuk dilepaskan Selesai sudah ceritera ring lima yang mengalungi logo Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat.

Kepastian itu didapat usai Ketua KONI, Tono Suratman serta jajarannya menerima kunjungan Ketua KOI, Erick Thohir dan pengurusnya di Kantor KONI saat melakukan komunikasi untuk program kerja dan harmonisasi kedepannya lebih baik.

Menurut perwakilan dan juru bicara KONI, Suwarno, menjelaskan, bahwa keputusan KONI Pusat melepas logo 5 ring tersebut karena sesuai dalam hasil rapat komisi I di Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) KONI di Papua beberapa waktu lalu.

“Dari rapat komisi I bidang organisasi sudah diputuskan abahwa penggunaan dan pemakaian ring 5 pada lambang KONI untuk tidak digunakan, selanjutnya dikembalikan kepada IOC. Jadi ini semua sesuai putusan rapat,” kata Suwarno usai pertemuan di Jakarta, Jumat (4/12).

Suwarno pun menegaskan bahwa tidak ada tekanan dari berbagai pihak terkait keputusan pencopotan logo 5 ring di KONI Pusat, walau sejauh ini pihak Kemenpora sudah melayangkan surat ancaman pembekuan terhadap KONI.

“Ini murni dari hasil rapat KONI pribadi, tidak ada penekanan, kami sudah sepakata dari hasil Musornaslub,” tegas Suwarno. Rencananya usai putusan ini, KONI Pusat akan mengirim surat kepada KONI Provinsi dan cabang olahraga terkait untuk segera menghilangkan logo 5 ring dari lambang KONI.

“Kami langsung menyampaikan kepada masing-masing KONI Provinsi dan cabang olahraga, memang butuh waktu lama untuk menghilangkan logo tersebut, jadi ditunggu saja prosesnya. Yang pasti kami sepakat melepasnya,” ujar Suwarno.

Seperti diketahui, dorongan pencopotan logo 5 ring di lambang KONI tidak hanya datang dari mantan atlet Olimpiade dan KOI, melainkan Kemenpora secara tegas mengirim surat ke KONI, dan memberikan tenggat waktu hingga 10 Desember, jika tidak akan dibekukan oleh Kemenpora.

“KONI sudah membalas surat Kemenpora terkait penjabutan 5 ring di lambang KONI yang sudah dilakukan sejak 3 Desember. Dan kami juga menyampaikan laporan Musornaslub kemarin,” jelasya. (Jordan)

Atlet Olimpian Indonesia Minta KONI Tanggalkan Logo

Jumat, 04 Desember 2015

SEJUMLAH para atlet olimpian Indonesia meminta KONI mengembalikan logo lima ring yang selama ini digunakan ke Komite Olimpiade Internasional (IOC) agar tidak memunculkan kerugian bagi atlet yang akan turun di kejuaraan internasional, khusus di pentas multi event, seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.

Demikian ditegaskan Krisna Bayu, mantan atlet judo, yang didampingi olimpian lainnya seperti Leane Suniar (panahan), Hadi Wihardja, Surya Agung (atletik), dan Juana Wangsa (taekwondo) di Jakarta, Kamis (3/12/2015). Bayu mengatakan, desakan agar KONI melepaskan lima ring ini merupakan buntut dari kekecewaan olimpian yang menilai keputusan KONI pada Musornas 2015 di Papua beberapa waktu lalu diplintir jika dibandingkan dengan rapat Komisi I Bidang Organisasi.

"Pada rapat komisi diputuskan jika penggunaan dan pemakaian ring lima pada lambang KONI untuk tidak digunakan selanjutnya dikembalikan ke IOC. Tapi pada keputusan akhir ternyata tidak sama," katanya di Kantor KOI Senayan. Bayu menegaskan, jika KONI tidak segera melepaskan lima ring yang ada pada logo akan banyak kerugian yang ada didapat. Selain mendapatkan sanksi dari IOC, posisi Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang terancam.

Dengan kondisi tersebut, para olimpian diantaranya Krisna Bayu, Hadi Wihardja, Liane, Juana Wangsa Putri serta Suryo Agung mendukung penuh keputusan pemerintah yang mendesak KONI untuk segera mencopot logo lima ring sesuai dengan anjuran IOC.

Pemerintah dalam hal ini Kemenpora bahkan telah mengirimkan surat teguran keras yang harus ditangani selama 10 hari kedepan. Jika tidak ditanggapi sanksi administrasi sesuai dengan perundang-undangan akan diterapkan. "Kami ingin Ketua Umum KONI Pusat bersikap legowo dan bijak sebagai patriot sejati olahraga Indonesia yang memajukan martabat bangsa dan negara," tegasnya.

Permasalahan penggunaan lima ring pada logo KONI sudah berjalan lama bahkan sudah masuk ranah hukum. Bahkan sudah ada keputusan dari Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor 68/PDT.SUS.MEREK/2014/PN.NIAGA.JKT.PST tanggal 4 April 2015. Namun, pihak KONI hingga saat ini dinilai belum melaksanakan keputusan. Bahkan lembaga yang dipimpin oleh Tono Suratman ini akan membawa permasalahan ke IOC. Kondisi ini kurang disetujui oleh olimpian karena masalah ini dinilai bisa diselesaikan di Tanah Air. (Jordan)

________________________________________

Kemenpora Tegaskan akan Beri Sanksi KONI Pusat

KEMBALI Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengancam akan memberikan sanksi tegas kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang hingga saat ini masih menggunakan logo lima ring properti milik Komite Olimpiade Internasional atau IOC.

Demikian ditegaskan Kepala Komunikasi Publik Kemenpora, Gatot S Dewa Broto dalam keterangan tertulis yang diterima media di Jakarta, Kamis, pihak pemerintah memberikan waktu 10 hari sejak surat peringatan diberikan untuk melepaskan logo lima ring tersebut.

"Pemerintah melalui menpora memberikan surat peringatan kepada KONI agar beritikad baik dan mematuhi untuk tidak menggunakan simbol olimpiade berupa ring lima selambat-lambatnya 10 hari sejak diterimanya surat peringatan," katanya.

Jika dalam batas waktu yang telah ditentukan tidak ada respon positif, kata dia, pemerintah melalui menpora akan mengambil tidakan tegas berupa pengenaan sanksi administratif lebih berat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Surat peringatan keras pemerintah kepada Ketua Umum KONI Pusat dengan No. 05876/MENPORA/XII/2015 tertanggal 1 Desember ini ditandatangani Sesmenpora atas nama Menpora dan ditembuskan kepada Wakil Presiden RI, Menko PMK, Mensesneg, Mendagri, Kapolri, Ketua Komisi X DPR RI dan Ketua KOI.

Dalam surat tersebut juga disampaikan beberapa pertimbangan sehingga pemerintah harus mengeluarkan peringatan keras di antaranya adalah secara de facto dan de jure bahwa KONI nyata-nyata secara sah dan terbukti tidak menunjukkan iktikad baik dengan tetap menggunakan simbol olimpiade pada lambang KONI.

Selanjutnya, pihak Kemenpora hingga saat ini belum menerima pemberitahuan resmi dari KONI berupa tindakan konkret atau nyata untuk memenuhi dan melaksanakan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor 68/PDT.SUS.MEREK/2014/PN.NIAGA.JKT.PST tanggal 4 April 2015 yang pada pokoknya bahwa KONI tidak beritikad baik dalam mengajukan permohonan pendaftaran merek yang menggunakan simbol olimpiade yang notabene milik IOC.

Keengganan KONI untuk melepas logo lima ring juga terlihat saat Musyawarah Olahraga Nasional (Musornas) di Papua beberapa waktu lalu yang belum berhasil memutuskan pelepasan logo lima ring. Bahkan KONI masih akan membawa permasalahan logo lima ring ke IOC.

Kondisi tersebut oleh pemerintah dinilai bertentangan dengan perintah Menpora sesuai suratnya No. 01014/Menpora/III/2015 tertanggal 27 Maret 2015 yang telah disampaikan kepada Presiden IOC, sebagai respon atas adanya surat Presiden IOC tertanggal 27 Januari 2015 yang langsung ditujukan kepada Presiden RI Joko Widodo.

Di dalam suratnya tersebut, Menpora menyadari sepenuhnya bahwa penggunaan lima ring ataupun properti yang menjadi hak milik IOC harus atas persetujuan IOC. Oleh karenanya, Menpora telah memerintahkan KONI dan KOI untuk mematuhi Piagam Olimpiade dan UU Sistem Keolahragaan Nasional.

Selain itu, Menpora juga telah memerintahkan KONI untuk mencabut lambang lima ring pada logonya, karena Pengadilan Negeri Jakarta pada putusannya tanggal 4 Maret 2015 tidak mengizinkan KONI untuk menggunakan lambang lima ring. Surat tertanggal 27 Maret 2015 ditembuskan kepada Menlu RI, Presiden OCA, Ketua Umum KONI dan Ketua Umum KOI. (Jordan)

Tono Kembali Pimpin KONI Pusat

Minggu, 29 November 2015

AKHIRNYA Tono Suratman kembali dipercaya menjadi Ketum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) periode 2015-2019. Tono terpilih secara aklamasi di Musyawarah Olahraga nasional (Musornas) yang dihadiri 31 KONI Provinsi dan 58 pengurus olahraga di Hotel Aston, Jayapura, Papua, Minggu (29/11/2015).

Tim Penjaringan/Penyaringan Bentukan KONI memang, secara resmi membuka pendaftaran bakal calon ketua umum KONI dibuka pada 21 Oktober dan ditutup pada 19 November kemarin. Namun, dari sejumlah orang yang mengambil formulir, tercatat hanya Tono yang mengembalikan formulir pendaftaran.

Sempat ada usulan dari PB TI (Pengurus Besar Taekwondo Indonesia) dan KONI Nusa Tenggara Barat untuk menambah calon ketua umum dalam Musornas dengan memajukan Marciano Norman (Ketua PB TI ). Namun dalam sidang pleno KONI, nama Marciano ditolak oleh mayoritas suara yang hadir. Alhasil terpilihlah Tono secara aklamasi.

"Saat Musornas tadi, kami sebenarnya sudah ditanya beberapa kali oleh pemimpin sidang, tapi tidak ada keberatan dari peserta, semuanya mendukung. Makanya muncul aklamasi dan terpilihlah Bapak Tono sebagai Ketua Umum KONI," ujar Ketua Pelaksana Musornas KONI 2015, Suwarno, usai pemilihan.

Bagi Tono terpilih menjadi ketua umum KONI. Tugas berat otomatis dipikulnya. Pada era kepemimpinannya sebelumnya, ia gagal meningkatkan prestasi Indonesia yang terus melorot. Dimulai dari SEA Games 2013 (posisi empat), kemudian Asian Games 2014 (gagal masuk 10 besar Asia), dan SEA Games 2015 (posisi lima), kini Tono diharapkan mampu menjawab tantangan masyarakat Indonesia untuk kedua kalinya.

"Tugas yang akan saya lakukan dalam waktu dekat adalah melanjutkan program-program yang masih belum dikerjakan, terutama masalah pembinaan atlet dan pelatih yang sangat terbatas. Kemudian program lainnya yang masih tertinggal akan kami kerjakan bersama-sama pengurus yang akan dibentuk," kata Tono seperti yang dikutip dari Detik Sport, Minggu (29/11/2015).

Menurut Tono, pihaknya akan mendorong pemerintah untuk masalah sarana dan prasarana untuk latihan dan kemudian apresiasi kepada atlet dan pelatih. Di samping membina hubungan yang baik antara KONI dan KOI supaya terealisasi hasil yang lebih optimal," lanjutnya. Hal ini, kata Tono, sekaligus untuk menjawab kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap KONI setelah kembali dipimpin oleh dirinya. Meski, tidak serta merta menjadi tugas KONI seutuhnya.

"Pada prinsipnya kami selalu berusaha yang terbaik untuk diberikan kepada negara. Tapi, jika itu dibebankan oleh KONI tanpa dukungan penuh dari pemerintah, bukan hanya dana, tapi sarana dan prasana, atau peralatan yang tidak tepat waktu, juga tidak akan bisa. Yang jelas KONI akan berusaha semaksimal mungkin, karena prestasi tidak hanya dana, tapi semuanya. Tapi, jangan juga hanya dibebani KONI saja," jelasnya.

Tono juga akan segera membentuk kepengurusannya yang baru. Dia diberi waktu 30 hari untuk membentuk keorganisasinnya sebelum akhirnya melaporkannya kepada Menpora Imam Nahrawi.

"Segera kami akan bertemu dengan Bapak Menteri. Kami usahakan terbentuk pengurus yang baru dulu," kata Tono. Tak hanya kepada Menpora, Tono juga sudah berencana untuk bersilaturahmi dengan Ketua Umum KOI Erick Thohir dan Ketua Satlak Prima Achmad Sutjipto guna menjalin hubungan yang lebih baik dengan kedua belah pihak.

"Tentu, kami akan bertemu dengan mereka juga. Kami akan berkoordinasi dengan Ketum KOI dan Kasatlak Prima yang baru. Komunikasi dengan lembaga atau stakeholder, terkait penting untuk kelangsungan olahraga Indonesia Sehingga sasaran yang ditargetkan bisa tercapai," jelasnya. (Jordan)

Tono Dipastikan Kembali Pimpin KONI Pusat

KETUA Umum KONI Pusat Demisioner Mayjen TNI(Pur) Tono Suratman dipastikan untuk kedua kalinya akan memimpin posisi jabatan Ketua Umum KONI Pusat periode 2015-2019 pada Musyawarah Olahraga Nasional Musornas KONI Pusat yang berlangusng Minggu (29/11) di Hotel Aston, Jayapura.

Sebab, hingga penutupan pendaftaran pada 19 November lalu hanya nama Tono yang masuk ke Tim Penjaringan/Penyaringan. Dengan hanya nam Tono Suratman satu–satunya calon resmi yang terdaftar melalui proses tim penjaringan. Pada masa pembukaan sidang pleno pertama sempat terjadi perdebatan sengit menyangkut pengesahan tata tertib tentang tata cara penjaringan calon Ketua Umum.

Dalam acara itu PB TI (Taekwondo Indonesia) dan KONI Nusa Tenggara Barat mengusulkan agar Musornas sesuai dengan Pasal 6 ayat 3 tata tertib Musornas bahwa Musornas bisa menjaring dan menetapkan lagi calon–calon Ketua Umum. Alasan yang dikemukakan PB TI dan KONI NTB itu cukup mendasar mengingat hanya ada satu calon. Namun keinginan itu dipatahkan floor yang mayoritas pendukung calon incumbent.

“Sungguh sangat disayangkan jika Musornas di Papua ini hanya untuk mengaklamasikan seorang Tono Suratman. Kalau kita evaluasi apa yang sudah dilakukan KONI Pusat selama 4 tahun ini, seharusnya yang bersangkutan instrospeksi apa memang benar masih layak memimpin KONI Pusat,” Kata Umbu S Samapaty yang memang dikenal sangat vokal dalam mengkritisi kinerja KONI Pusat.

Musornas KONI Pusat kali ini tidak dihadiri perwakilan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. Pemandangan di Musornas KONI kali ini sangat berbeda jika dibandingkan pada tahun 2203, 2007, dan 2011. Lazimnya pada setiap Musornas ada perwakilan Pemerintah memberikan pembekalan kepada peserta Musornas.

Sementara itu Gubernur Papua Lucas Enembe, ketika membuka resmi Musornas KONI Pusat ke-12 ini berharap agar Musornas ini dapat dijadikan sebagai langkah awal persiapan Papua menuju tuan rumah PON-XX tahun 2020. “Dalam kesempatan ini saya berharap agar peserta Musornas yang hadir dari perwakilan cabang dan KONI se–Indonesia dapat membantu dan mendukung Papua menuju PON-XX tahun 2020 ,” ujar Lucas kepada wartawan, Sabtu (28/11).

Sehingga dalam agenda Musornas, Minggu 29/11), hanya membahas sidang Komisi meliputi Bidang Organisasi, Pembinaan Prestasi dan Dana, serta menetapkan secara aklamasi Tono Suratman sebagai Ketua Umum KONI Pusat masa bhakti 2015-2019. (Jordan)

Tim Penjaringan Nyatakan Tono Lolos Verifkasi

Jumat, 27 November 2015

TONO Suratman selaku Ketua Umum Demisioner dipastikan melenggang mulus ke Musyarawah Olahraga Nasional (Musornas) KONI di Jayapura, Papua 28-30 November sebagai calon Ketua Umum setelah dinyatakan lolos verifikasi yang dilakukan oleh Tim Penjaringan.

"Tono telah memenuhi semua syarat minimal. Kami juga sudah melakukan verifikasi aktual pada berkas-berkas pendukung pencalonan termasuk yang tanda tangan surat dukungan," kata anggota Tim Penjaringan, Ericson Ludji, saat dikonfirmasi dari Jakarta, Kamis.

Untuk maju sebagai calon Ketua Umum KONI periode 2015-2019, seorang calon harus mendapatkan dukungan minimal delapan pengurus provinsi (pengprov) KONI dan 12 pengurus pusat cabang olahraga. Dukungan sendiri harus ditandatangani oleh ketua.

Ludji menyatakan, berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Tim Penjaringan, Tono Suratman merupakan satu-satunya calon yang mendaftar sesuai dengan tahapan yang telah ditetapkan. Bahkan, berkas administrasinya telah dinyatakan lolos dan tidak ada masalah.

"Pak Tono satu-satunya calon yang mendaftar sesuai dengan tahapan yang ada. Setelah verifikasi tuntas, kami (Tim Penjaringan) akan melaporkan ke Musornas. Sampai disitu tugas kami selesai," katanya menambahkan. Saat ditanya siapa saja yang memberikan dukungan pada calon petahana tersebut, Ericson menegaskan salah satunya adalah Pengprov KONI Sulawesi Tenggara. Menurut dia, surat dukungan juga ditandatangani langsung oleh sang ketua.

Dengan tuntasnya verifikasi, kata dia, bisa dipastikan tidak ada calon lagi yang akan masuk karena semua tahapan telah selesai. Atau bisa dikatakan, Tono Suratman akan menjadi calon tunggal. "Ya sampai sekarang, begitu (Tono Suratman sebagai calon tunggal)," kata pria yang juga Wakil ketua Pengprov KONI Sulawesi Tenggara itu.

Meski hanya satu orang yang mencalonkan diri sesuai dengan tahapan yang telah ditetapkan, namun ada informasi bahwa akan ada calon yang masuk melalui Musornas. Salah satu bakal calon yang muncul adalah Ketua PB Taekwondo Indonesia, Marciano Norman.

Musornas KONI di Jayapura, Papua, diikuti 97 peserta terdiri dari 34 pengprov KONI dan 63 pengurus pusat/besar cabang olahraga. Mereka juga merupakan pemilik suara pada pemilihan Ketua Umum KONI periode 2015-2019 dan semuanya akan menyalurkan hak pilihnya. (Jordan)

Kemenpora Berharap Musornas KONI Tidak 1 Calon

Selasa, 24 November 2015

KEMENTERIAN Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berharap pemilihan ketua umum KONI Pusat yang akan dilakukan pada Musyawaran Olahraga Nasional (Musornas) 2015 di Papua akhir November ini, tidak hanya diikuti calon tunggal. Untuk itu, KONI Pusat atau tim penjaringan bentukan KONI Pusat harus memberi kesempatan calon lain yang muncul saat Musornas nanti ‘bertempur’, meski yang bersangkutan terlambat menyelesaikan syarat administrasi.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora), Gatot S Dewabrata saat ditemui di kantor Kemenpora, Selasa (24/11/2015), mengungkapkan, Kemenpora pasti menginginkan Musornas berjalan lancar dan aman, serta mampu menghasilkan program ke depan yang lebih baik, serta memilih ketua umum yang demokratis sesuai AD/ART KONI Pusat. Dari situ tentu ada mekanisme-mekanisme yang harus dijalankan demi kebaikan olahraga Indonesia ke depan.

“Memang waktunya sudah tinggal hitungan hari. Kita harapkan semua sesuai AD/ART serta ketentuan Undang-Undang (UU), serta Peraturan Pemerintah (PP). Saya sudah dengar bahwa dari tim jaringan calonnya hanya satu. Kalau tidak salah, bila demikian nanti masalah calon itu harus dikembalikan ke voter. Kalau voter aklamasi ya lanjut, tapi kalau voter mau ada calon lain tentu harus ditindaklanjuti,” ujar Gatot.

Memang, lanjut Gatot, idealnya calon ketua umum tidak hanya satu. Seperti saat pemilihan ketua umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) antara Erick Thohir dan EF Hamidy. “Tapi kalau hanya pak Tono, kami dari Kemenpora juga tidak ada niat untuk menghadirkan satu calon lagi. Kalau itu sudah menjadi pilihan terbaik anggota KONI, ya silakan. Jangan anggap kami intervensi,” kata Gatot.

Gatot mengaku terus mencermati proses menuju Musornas 2015. Dari situ, ia melihat sebenarnya ada beberapa nama yang bersedia untuk maju menjadi calon ketua umum KONI yaitu Ketua Umum PB TI Letjen TNI (purn) Marciano Norman dan Ketua Umum PTMSI Komjen (Pol) Oegroseno. Ia sendiri tidak tahu pasti kenapa kedua figur itu tidak masuk ke tim penjaringan.

“Kami dapat laporan banyak tokoh yang siap dicalonkan. Tapi mereka terbentuk ‘tembok’ aturan karena dianggap berprestasi buruk. Seharusnya semua tetap diakomodasi, toh nanti yang milih khan voter. Kalau mereka dianggap berprestasi buruk, seharusnya diberi kesempatan untuk membuat prestasi yang baik,” ungkap Gatot.

Intinya Kemenpora, kata Gatot, ingin Musornas 2015 tidak hanya dijadikan arena saling ‘serang’ dalam memilih ketua umum. Tetapi justru dijadikan ajang untuk menjawab tantangan prestasi olahraga Indonesia ke depan yang dinilainya sangat berat.

“Rasanya sangat berat sekali. Tidak hanya Olimpiade 2016, SEA Games 2017, Asian Games 2018. Juga Komisi X DPR RI yang terus mengkritisi prestasi olahraga kita. Harapan anggota dewan sangat tinggi, kapan lagi berprestasi? Satlak sudah diganti. Ketua KOI juga ganti. Kalau KONI tak diganti, kami tetap menghormati, asal bisa bersinergi membangun prestasi olahraga ke depan. Tapi kalau tidak bisa memberi jaminan, seharusnya itu bisa menjadi pertimbangan anggota,” terangnya. (Jordan)


Marciano Siap Bersaing di Musornas KONI

Kamis, 19 November 2015

MANTAN Ketua Badan Inteljen Negara (BIN) Letjen TNI (purn) Marciano Norman menyatakan bersaing sebagai calon ketua umum KONI Pusat pada Musornas KONI Pusat yang berlangsung di Papua, 28-30 November mendatang.

Meski secara administratif, mantan Ketua BIN itu belum mendaftar ke tim penjaringan yang dibentuk oleh KONI Pusat yang diketuai EF Hamidy. Namun, jika masyarakat olahraga Indonesia menghendakinya untuk maju di detik-detik akhir pemilihan, Marciano siap untuk bersaing dengan calon lainnya.

“Sebagai Anak Bangsa tidak ada alasan untuk saya menolaknya, karena pengabdian untuk Bangsa dan Negara tidak boleh berakhir. Itu pun jika dikehendaki oleh peserta Musornas,” kata Marciano Norman kepada wartawan di sela-sela Pra Pon Taekwondo di Gedung POPKI Cibubur, Jakarta, Kamis (19/11/2015).

Ketua Umum PB PTI (Taekwondo) berharap agar kelak pimpinan KONI kedepan mempunyai komitmen kuat untuk meningkatkan prestasi yang telah dicapai saat ini. Selain itu bisa bersinergi dengan baik dengan Kemenpora, KOI,Satlak Prima, dan seluruh stakeholder olahraga di Indonesia.

“Harus punya komunikasi yang baik. Pasalnya jika tidak, perkembangan olahraga akan terganggu. Tidak boleh ada sumbatan di salah satu pemangku kepenntingan tersebut,” ujar mantan Dan Paspampres ini.

“Tentunya,semua cabang olahraga maupun KONI Daerah tidak menginginkan lagi ada hubungan yang tidak harmonis diantara pemangku kebijaan olahraga di Indonesia,” tegas mantan Pangdam Jaya ini.

Ia juga mengatakan KONI Pusat harus mendukung apa yang telah di programkan oleh Pemerintah dalam hal ini Kemenpora dalam upaya peningkatan prestasi olahraga di Indonesia. “Kita harus meninggalkan ego sektoral yang bisa menghambat kemajuan prestasi olahraga Indonesia. Sekarang ini saatnya kita bersatu untuk mencapai prestasi tingkat dunia,” sebut mantan Dan Kodiklat ini.

Seprti diketahui, pendaftaran calon ketua umum KONI Pusat telah di tutup, Kamis (19/11/2015) hingga penutupan pada pukul 16.00 WIB, baru satu calon yang telah mengembalikan formulir pendaftaran yakni Mayjen TNI (purn) Tono Suratman.

Menurut salah satu anggota Tim Penjaringan dan Penyaringan Calon Ketua Umum KONI Pusat, Erickson Loedji jika hanya satu calon maka mekanismenya akan diserahkan kepada peserta Musornas nanti. (Jordan)

KONI Pusat hanya mengakui Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) pimpinan Ketua Umum Marzuki Alie bukan Pengurus Pusat (PP) PTMSI versi Oegroseno. Karena itu KONI mempercayakan pelaksanaan pertandingan kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (Pra PON) tenis meja kepada PB PTMSI Marzuki.

Meskipun demikian, anggaran pelaksanaan Pra-PON tidak melalui KONI namun langsung dari Kementrian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora) ke PB PTMSI. Dasar tulah, kata Wakil Ketua Umum IV KONI Pusat, I Inugroho, keliru pernyataan dan langkah Oegroseno yang melaporkan KONI Pusat ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan penyelewengan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk cabang tenis meja.

Apalagi, Menurut Inugroho, KONI Pusat tidak pernah mendapat anggaran dari pemerintah untuk mendanai Pra-PON tenis meja yang diadukan Oegroseno. Dia mengatakan, anggaran dari Kemenpora tak melalui KONI, tapi langsung disalurkan ke Pengurus Besar dan Pengurus Pusat (PB/PP). “Kami tak pernah dapat APBN untuk Pra-PON. Kalau disampaikan seperti itu, jelas keliru karena memang tidak ada. Sebab APBN disalurkan pemerintah langsung ke cabang olahraga,” kata Inugroho di Jakarta, kemarin.

PB PTMSI yang diakui KONI Pusat, kata Inugroho, bukan versi Oegroseno, tapi Marzuki Alie. Sehingga wajar jika pelaksanaan Pra-PON tenis meja dipasrahkan kepada kepengurusan PB PTMSI versi Marzukie Ali.

KONI juga belum mengakui putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang memenangkan gugatan Oegroseno. Pasalnya, KONI Pusat masih menunggu putusan kasasi Mahkamah Agung (MA), meski dalam website MA kasasi KONI Pusat telah ditolak. “Kalau hanya berita seperti itu artinya belum mengikat KONI, secara hukum berdasarkan hukum acara persidangan,” ujar Kabid Pembinaan Hukum KONI Amir Karyatin.

Terkait imbauan surat Menpora agar KONI patuh terhadap putusan PTUN, pihaknya belum bisa menjalankannya. KONI beralasan surat yang dikirim Menpora hanya bersifat imbauan. “Itu sifatnya hanya imbauan, artinya tidak mengikat,” kata Amir.

Disinggung masalah hasil Pra PON mana yang diakui KONI Pusat untuk tampil di PON Jabar 2016. Apakah Pra PON Bandung atau Bali? “Kita belum bisa menentukan. Tunggulah hasil Munaslub PB PTMSI,” kata Wakil Ketua KONI Pusat, Suwarno.

Dalam kesempatan berbeda, Oegroseno meminta KONI Pusat mematuhi keputusan MA. Dia juga meminta KONI tak menunggu salinan resmi amar putusan MA karena sudah dimuat dalam website MA. Sehingga, KONI hanya akan mengakui PTMSI pimpinannya, bukan Marzukie Ali. Apalagi, Marzukie Ali sudah mengundurkan diri dan tak ikut campur dalam olahraga tenis meja.

“Jelas sudah, putusan yang sudah ditampilkan di wesbite MA itu sudah sah. Jadi kenapa dipertanyakan? Apalagi, Pak Marzukie Ali sudah mundur dari PTMSI dan tak mau terlibat lagi. Saya sudah dapat SMS dari Pak Marzukie kalau beliau benar-benar mundur,” katanya. (Jordan)

Tim Penjaringan Ubah Persyaratan Balon Ketum KONI

Senin, 16 November 2015

PERUBAHAN persyaratan bakal calon (Balon) ketua umum KONI Pusat, di rubah oleh Tim Penjaringan. Jika sebelumnya kandidat harus mengantongi dukungan sebanyak 15 PB/PP dan 10 KONI Provinsi, kini diubah menjadi 12 PB/PP dan 8 KONI Provinsi.

Demikian ditegaskan Ketua Tim Penjaringan Hamidy. Menurut Hamidy, syarat diubah untuk memberi kesempatan kepada para calon yang ingin maju agar tak kesulitan mencari dukungan suara. "Ada yang bilang, syarat sebelumnya terlalu berat. Karena itu kami ralat supaya makin banyak calon yang mendaftar," kata Hamidy usai acara pertemuan antara KONI Pusat dengan PB/PP di Gedung Serbaguna Senayan, Jakarta, Senin (16/11/2015).

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa pihaknya menyertakan syarat dukungan dari KONI Provinsi supaya lembaga itu ikut dihargai. Apalagi, KONI Provinsi juga ikut melakukan pembinaan terhadap atlet-atlet di daerah. "KONI Provinsi itu juga anggota KONI Pusat. Mereka dilibatkan dalam pemilihan ketua umum supaya ada rasa memiliki dan dihargai. Mereka tak bisa dipisahkan untuk pembinaan atlet," jelasnya.

Namun untuk persyaratan lain tak diubah, yaitu pernah menjabat ketua umum PB/PP, ketua KONI provinsi dan pengurus KONI Pusat. Selain itu tidak terikat partai politik dan tidak sedang menjalani proses pidana. Sesuai tahapan tim penjaringan, proses pendaftaran bakal ditutup pada 19 November pukul 16.00 WIB. Sedangkan pemilihan ketua umum KONI Pusat akan dilakukan melalui Musyawarah Olahraga Nasional (Musornas) di Papua, 28-30 November mendatang.

Hamidy menambahkan sejak pendaftaran dibuka pada 21 Oktober lalu, baru empat orang yang mengambil formulir. Namun pihaknya belum tahu siapa keempat orang tersebut. "Yang ambil kan ajudan-ajudan, jadi kami tidak tahu. Tunggu saja sampai 19 November baru akan ketahuan," kata pria yang juga menjabat sekjen KONI Pusat tersebut.

Informasi yang diperoleh Olahragaonline.com, bahwa keempat nama yang sudah mengambil formulir itu adalah Ketum KONI Pusat Tono Suratman, Ketua KOI Erick Thohir, Ketum PB PTI Marciano Norman, dan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Namun dari keempat nama tersebut hanya Tono yang berani secara terang-terangan menyatakan diri kembali ikut dalam pencalonan Ketum KONI. Sedangkan tiga nama lainnya belum ada keterangan kepada wartawan soal pencalonan itu. (Jordan)

Suwarno Meragukan Indonesia Raih 2 Emas di Olimpiade 2016

Jumat, 23 Oktober 2015

MANTAN Kasatlak Prima Suwarno pesimistis dengan target 2 keping emas yang dicanangkan pemerintah di Olimpiade Rio De Janeiro, Brasil. Pasalnya, persiapan cabang olahraga dengan sukungan dana tidak sinkron. Kondisi ini selalu menjadi momok dalam setiap persiapan multievent.

“Jika pemerintah dalam hal ini Kemenpora, memberikan target 2 emas itu, semestinya antara dukungan pemerintah dan cabor harus sejalan, oleh karena itu diperlukan kesatuan langkah antara semua stekholder olahraga”.tegas Suwarno dalam sarasehan KONI Pusat dengan media bertajuk ‘Menyatukan langkah menuju sukses prestasi asian games XVlll/2018′ di gedung serba guna, Senayan, Jakarta, Kamis (22/10).

Mantan Pangdam Brawijaya itu menambahkan, sebaiknya antara persiapan dengan Olimpiade Brasil dan Asian Games 2018 adalah satu paket, lantaran jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan hampir sama. Mengenai target di Brasil, Suwarno mengatakan, hanya cabang bulutangkis yang memiliki peluang, itupun hanya di nomor ganda.

“Dengan persiapan satu paket Olimpiade dengan Asian Games, saya berharap, kualitas atlet Indonesia yang muncul berada dalam tataran yang sama”paparnya. Terpisah, wartawan senior Ian Situmorang mengatakan,keterpurukan prestasi selama ini, tidak lepas adanya konflik horizontal dan vertikal. Ia memberikan contoh pertikaian antara KONI dengan KOI dalam pemakaian logo ring lima. Konflik ini tidak membuat atlet nyaman dalam berlatih.

“Dalam tahun 1977 SEA Games, keikutsertaan kontingen Indonesia, selalu juara umum, hal ini karena tidak ada konflik horizontal dan vertikal, dan diisi oleh pelaku dari olahraga,” ungkap Suwarno yang juga Wakil Ketum KONI Pusat itu. Ia juga berharap, posisi wartawan yang tergabung dalam SIWO juga harus berperan untuk menjembatani dan mampu menyelesaikan konflik tersebut demi kemajuan prestasi olahraga di Indonesia.

Suwarno juga menyoroti kabar kelebihan dana di program Satlak Prima sebesar Rp.300 miliar. Padahal, banyak cabor yang teriak kekurangan dan minim peralatan olahraga. “Lihat, keluhan para atlet, yang tampil di SEA Games, tidak memakai seragam, malahan pascapertandingan baru di kasih. Ini sangat memalukan,” terangnya.(Jordan)

BOLA JERMAN

FIGUR

TINJU

RAKET

BASKET