Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

BOLA NASIONAL

BOLA INGGRIS

POPULER

SOROTAN

SEA GAMES

Kontingen Pelantara 9 Saksikan Lompat Batu Tradisional Nias

Rabu, 18 September 2019

Saat hari keempat berada di Pulau Nias, kontingen Pelantara 9 tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjungi salah satu kampung megalitikum di Desa Bawomataluo, di mana terdapat atraksi budaya lompat batu.

Sejalan dengan sebutan kampung megalitikum, setiba di halaman kampung ini, kita akan menemukan banyak bebatuan besar di sepanjang halaman kampung.

Melestarikan kearifan lokal merupakan salah satu implementasi dari nilai Bela Negara yang pertama yakni Cinta Tanah Air.

Akan tetapi, bukan hanya batu besar itu yang membuat para wisatwan tertarik datang ke desa itu, tetapi karena di kampung itu terdapat atraksi budaya yang menarik yakni lompat batu atau dalam bahasa setempat dikenal dengan sebutan hombo batu atau fahombo.

Karena tradisi itu unik dan khas, maka pemerintah telah menetapkan desa ini sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional (CBPN) di Sumtaera Utara.

Bagi masyarakat Nias, budaya lompat batu begitu populer dan saking populernya, adegan seorang pria yang melompati batu ini pernah muncul dalam salah satu seri uang kertas Indonesia.

Berangkat dari Lanal Teluk Dalam sekitar pukul 10.25 dengan menggunakan angkutan umum khas Nias Selatan.Jalan menuju lokasi fahombo sangat terjal dan berkelok-kelok sehingga sang sopir harus ekstra hati-hati saat berkedanra menuju kampung itu.

Hujan rintik-rintik yang turun sejak subuh tidak menyurutkan semangat para peserta pelantara untuk mencapai lokasi itu.

Jarak kampung lompat batu hanya 12 kilo meter dari Lanal Teluk Dalam sehingga rombngan Pelantara 9 hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk bisa tiba di kampung yang terletak di ketinggian sekitar 300-an meter di atas permukaan laut itu.

Tiba di lokasi, kontingen Pelantar 9 disambut dengan antusias dan ramah oleh warga kampung. Rupanya, mereka sudah terbiasa dengan wajah-wajah asing yang tiap minggu datang ke tempat itu.

Di tengah kampung terdapat batu yang sudah disusun setinggi 2 meter dengan ketebalan 40 sentimeter yang akan dilompati oleh semua pemuda Nias yang sudah dianggap dewasa.

Selain dipamerkan dalam beragam acara adat, fahombo menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis hingga saat ini.

Dari beberapa literatur dijelaskan bahwa fahombo pertama kali muncul karena seringnya terjadi peperangan antarsuku di Tanah Nias. Situasi itulah yang mengharuskan setiap kampung memiliki bentengnya masing-masing.

Untuk memenangkan peperangan, setiap pasukan harus memiliki kemampuan untuk melompatinya. Karena itulah dibuat tumpukan batu sebagai sarana untuk berlatih ketangkasan para pemuda untuk melompat.

Meski tak lagi dilakukan untuk tujuan perang, fahombo masih tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Nias. Tradisi lompat batu Nias kini menjadi semacam ritual untuk menunjukkan kedewasaan pemuda-pemuda di sana. Tradisi ini bahkan tak dilakukan oleh semua warga Nias, melainkan hanya di kampung-kampung tertentu saja.

Bagi seorang pemuda Nias, melompati batu setinggi dua meter ini bukanlah hal mudah. Perlu latihan keras dan waktu yang cukup lama agar fahombo bisa berjalan lancar tanpa ada cedera. Tradisi ini juga sekaligus menjadi cara untuk membentuk karakter yang tangkas dan kuat dalam menjalani kehidupan.

Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan lompat batu, biasanya warga akan berkumpul di tempat pelaksanaan. Para peserta akan mengenakan baju adat yang khusus digunakan oleh para pejuang. Sambil berbaris, mereka semua menunggu giliran.

Tanpa ancang-ancang yang terlalu jauh, para pemuda ini berlari kencang, menginjakkan kaki pada tumpuan batu kecil di bawah sebelum akhirnya melayang di udara, melampaui batu besar setinggi 2 meter dan mendarat dengan selamat.
Selama proses melompat, tidak boleh ada bagian tubuh yang menyentuh permukaan batu. Jika tidak, maka sang peserta dinyatakan gagal.

Selain menonton atraksi lompat batu, kontingen Pelantara 9 juga mengabadikan kunjungan itu dengan berfoto, baik dengan teman mereka sendiri maupun dengan warga lokal yang sudah mengenakan pakaian adat khas Nias.

Ada pula yang menyerbu sovenir khas kampung itu untuk dibawah pulang sebagai kenang-kenangan dari Tanah Nias.

Selama kurang lebih dua jam berada di kampung itu, rombongan pun memutuskan kembali ke Lanal Teluk Dalam, karena sore harinya masih ada acara persmian Monumen pelantara 9 di Panti Baloho Teluk Dalam. Jordan

Kontingen Pelantara 9 Hadiri Puncak Sail Nias 2019

Rangkaian kegiatan Sail Nias 2019, yang telah dimulai sejak beberapa bulan lalu, akhirnya mencapai puncaknya hari ini, Sabtu (14/9/2019) dengan sebuah perayaan meriah yang berlangsung di Dermaga Baru, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.

Perayaan puncak Sail Nias tahun 2019 dihadiri sejumlah menteri Kabinet Kerja, seperti Menteri Koordiantor Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menkumham Yasonna H. Laoly, Menpar Aief Yahya, Mendes Eko Putro Sandjoyo, dan Menteri KP Susi Pudjiastuti.

Selain sejumlah menteri, acara puncak Sail Nias 2019 juga dihadiri Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, Bupati Nias Selatan, Hialrius Duha, jajaran pejabat di lingkungan pemerintah daerah Nias Selatan, sejumlah petinggi TNI Angkatan Laut, anggota DPRD Kabupaten Nias Selatan dan sejumlah duta besar negara sahabat serta ribuan masyarakat Nias Selatan.

Sejak pagi ribuan masyarakat Nias Sekatan sudah berdatangan ke lokasi puncak acara untuk menyaksikan momen langka yang mungkin sulit terulang di Tanah Nias.
Selain para menteri, pejabat pemda Sumut dan Nias Selatan dan petinggi TNI Angkatan Laut, acara puncak Sail Nias juga dihadiri kontingan Pelayaran Lingkar Nusantara tahun 2019 (Pelantara 9) yang di dalamnya terdiri dari satuan tugas Kapal Nusantara (KPN) dari Kemepora, Satgas Bela Negara dari Kemenhan dan satuan tugas Saka Bahari dari TNI Angkatan Laut.

Menteri KP Susi Pudjiastuti bersama Mendes Eko Puto, Menkumham Yasonna Laoly, Menpar Arief  Yahya dan Menko Maritim Luhut Binsar panjaitan memukul beduk tanda peresmian Sail Nias 2019. 

Acara yang berpusat di Dermaga Baru Teluk Dalam itu dimulai tidak lama setelah rombongan Menko Kemaritiman yang bertindak mewakili Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, tiba di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB.

Meski acara baru dimulai pukul 10.30 WIB, tetapi sejak pagi area Dermaga Baru sudah dipadati masyarakat setempat yang ingin menyaksikan even langkah berkelas internasional itu.

Dalam arena acara terlihat, ratusan wisatawan mancanegara juga nampak hadir di lokasi acara sejam sebelum rombongan menteri tiba.

Mereka berbaur dengan masyarakat lokal dan nampak sekali mereka sangat menikmati hiburan berupa paduan suara yang dibawakan oleh ratusan siswa/i SMP dan SMA se-Kabuaten Nias Selatan.

Selain penampilan paduam suara, acara puncak juga dimeriahkan dengan penampilan tarian perang yang dibawakan ratusan remaja lelaki yang diiringi tarian oleh remaja perempuan.
Namun, dari semua pentas seni yang tampil saat itu, yang paling banyak menyita perhatian ribuan hadirin adalah atraksi lompat batu yang dilakukan sekitar seratusan remaja Nias Selatan.
Atraksi itu begitu memukau dan sangat fenimenal sehingga berhasil memecahkan rekor MURI dengan jumlah pelomnpat terbanyak dalam sejarah atraksi lompat batu di Nias Selatan.

Serangkaian atraksi hari puncak Sail Nias ditutup dengan atraksi pesawat tempur yang dilakukan TNI Angkatan Udara di atas langit-langit Teluk Dalam.

Sekitar pukul 14.15 WIB rombongan Pelantara 9 akhirnya mulau meninggalkan arena puncak Sail Nias menuju Lanal di dekat Pantai Baloho sambil menunggu waktu untuk naik KRI Tanjung Kambani, guna meneruskan perjalanan menuju Lampung yang merupakan tempat persinggahan terakhir sebelum balik ke Jakarta. Jordan

Monumen Pelantara 9 Diresmikan

Monumen Pelayaran Lingkar Nusantara tahun 2019 (Pelantar 9), yang berdiri di lokasi wisata Pantai Baloho, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Jumat (12/9/19) diresmikan. 

Kelak monumen ini menjadi saksi bisu dari sebuah pelayaran akbar yang diikuti oleh kontingen lintas kementerian yakni kontingen Kapal Pemuda Nusantara (KPN) dari Kemenpora, Bela Negara dari Kemenhan, dan Saka Bahari dari TNI Angkatan Laut, dalam rangka Sail Nias 2019.

Hadir dalam acara peresmian monumen bersejarah itu antara lain Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Pemuda Kemenpora, Drs. I Gusti Putu Raka Pariana, MM., Dansatgas Pelantara 9, Kolonel Marinir I Dewa Gede Wirawan, Wadansatgas Bela Negara, Kolonel Arh. Luhkito Hadi Iswanto, ST.M.Si., Wakil Komanda Satgas Bela Negara Letkol Rudi Setiawan, S.IP., Kepala Dispotmar selaku Ketua Kwarnas Saka Bahari, Brigjen TNI (Mar) Donar Philip Rompas, serta para peserta kontingen Pelantara tahun 2019.

Selain sejumlah pimpinan Pelantara 9, acara peresmian monumen juga dihadiri oleh Bupati Kabupaten Nias Selatan, Dr. Hilarius Duha, SH.MH, serta beberapa pejabat daerah di lingkungan pemda Kabupaten Nias Selatan.

Dalam sambutannya, Kepala Dispotmar selaku Ketua Pimpinan Saka Bahari Tingkat Nasional Doanr Philip Rompas mengatakan bahwa, monumen Pelantara 9 merupakan bukti nyata adanya koordinasi lintas sektoral, lintas kementerian dan lembaga, baik di level pusat maupun daerah terkait upaya membangun semangat dan budaya bahari, budaya kemaritiman dalam diri generasi muda.

Khususnya dalam diri peserta Pelantara 9. Kegiatan Pelantara 9 juga dimaksudkan untuk meningkatkan semangat Bela Negara di kalangan generasi muda agar bisa berperan sebagai agen atau role model di masa yang akan datang.

”Kita patut bersyukur bwhawa kegiatan ini merupakan bukti nyata perlunya sinergitas antara lembaga dalam setiap kegiatan demi terciptanya kondisi kegidupan yang kondusif,” kantanya.

Apa yang disampaikan Rompas tentu saja sejalan dengan upaya pemerintah membangun semangat bahari, budaya maritim dalam diri generasi muda demi terwujudnya posisi Indoensia sebagai poros maritim dunia.

Ia berharap, dengan membangun monumen ini, rasa cinta tanah air, semangat nasionalisme dan budaya maritim akan semakin bertumbuh subur dalam sanubari para generasi muda Indonesia, khususnya anak muda yang mengambil bagian secara aktif, dalam even akbar Pelayaran Lingkar Nusantara tahun 2019 ini. Jordan

PP Persambi Kian Optimis Hadapi SEA Games 2019

Sukses meraih tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu di Kejuaraan Sambo Asia 2019, yang berlangsung 12-16 September lalu di India semakin menambah kepercayaan diri Pengurus Pusat Persatuan Sambo Indonesia (PP.Persambi) menuju SEA Games 2019 Filipina.

Atas hasil itu, PP.Persambi menatap optimis peluang atlet Sambo Indonesia di pesta olahraga antarbangsa se-Asia Tenggara itu. Induk organisasi olahraga beladiri yang dipimpin mantan jawara judo Indonesia dan raja Asia Tenggara, Krishna Bayu itu pun berani mematok target medali emas di SEA Games ke-30 itu.

“Melalui tiga emas yang diraih trio srikandi, Ridha Wahdaniyati, Desiana Syahfitri dan Emma Ramadinah  di Kejuaraan Asia di India baru-baru ini, semakin memacu semangat untuk menghadapi SEA Games Filipina nanti. Semoga hasil manis di India itu menjadi modal besar menuju SEA Games Filipina,”ujar Ketua Umum PP.Persambi Kresna Bayu kepada wartawan di Sekretariat PP.Persambi Lantai 2 Gedung Pusat Pengelola Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, Rabu, 918/9).

Menurut salah satu atlet peraih medali emas Rindha bahwa, dirinya optimis menuju SEA Games jika melihat hasil manis di Kejuaraan Asia ini. Di kejuaraan yang diikuti atlet-atlet sambo dari manca negara itu, Ridha di final mengalahkan atlet asal Thailand,Minthapol.

Sehari sebelumnya Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi pun mengapresiasi atlet sambo Indonesia yang berhasil mengukir prestasi pada kejuaraan level Asia dan dunia. Kontingen Indonesia yang berlaga pada kejuaraan itu berhasil meraih medali emas, perak, dan perunggu.
Menurut menpora seperti yang diutarakan Krisna Bayu, bahwa menpora sangat bangga atas perjuangan atlet sambo. Yang berakhir dengan sukses meraih tiga keping emas. Menpora berharap semoga Sambo bisa terus berprestasi, hingga sukses di event-event berikutnya.

Menpora juga mendorong agar para atlet Sambo terus berprestasi. Menurut Menpora, atlet adalah aset negara. Untuk itu, atlet diharap dapat terus berlatih dengan sungguh-sungguh. ”Atlet itu aset bangsa. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh, semoga bisa terus memberikan medali dan prestasi untuk Indonesia. Semua pengorbanan tidak ada yang sia-sia,” jelas Menpora.

Usai mengikuti Kejuaraan dunia beladiri di Korsel dan Kejuaraan Asia Sambo di India, para atlet Pelatnas Sambo ini direncanakan akan melakukan traning champ (tc) selama 45 hari di Uzbekistan. Rombongan ini akan berangkat pada Oktober mendatang.

Menurut Bayu, kegiatan ini sesuai dengan arahan menpora, agar atlet kita benar benar mempersiapkan diri guna meraih sukses capai target sapu bersih emas di Sea Games Filipina nanti. Seperti kita ketahui di SG 2019 cabang Sambo akan memperebutkan 7 medali emas. Jordan

BOLA JERMAN

FIGUR

TINJU

RAKET

BASKET