Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

BOLA NASIONAL

BOLA INGGRIS

POPULER

SOROTAN

SEA GAMES

Main Olahragaonline.com

Xeniya Betah Tinggal di Indonesia Namun Kurang Cocok dengan Masakannya

Senin, 07 September 2026

Jakarta-Pecatur cantik WGM Xeniya Balabayeva asal Kazakhstan. Selain cantik juga kelihatan cerdas hal itu terlihat jelas saat diwawancarai beberapa awak media, usai penutupan Kejuaraan Turnamen Catur JAPFA Chess Festival 2026, Minggu (6-9-2026) di Gedung Serbaguna Gelora Bung Karno, Jakarta. 

Xeniya dengan lugas menjawab semua pertanyaan. Kecerdasannya membuat ia, masuk jajaran 5 besar wanita di negaranya. Dengan kecantikannya dan permainan caturnya taktis membuat menarik perhatian khusus bagi para peserta Turnamen Catur JAPFA Chess Festival 2026 selama seminggu ini.

Betapa tidak, WGM Xeniya Balabayeva bukan hanya berhasil keluar sebagai juara usai mengungguli wakil Indonesia, WFM Laysa Latifah dengan 8 poin berbanding 2 poin.

Tapi, kecantikan gadis asal pecahan Uni Sovyet itu, merupakan sosok wanita yang cerdas. Xeniya tampil dominan sekaligus memanfaatkan ajang ini untuk menguji sejumlah strategi baru di papan catur.

"Secara keseluruhan, turnamen ini sangat bagus bagi saya. Saya menang dengan hasil yang cukup solid. Saya mencoba memainkan beberapa strategi yang menarik bagi saya, melakukan lebih banyak eksperimen, dan sebagainya. Saya harap lawan saya juga menikmati pertandingan ini. Secara pribadi, ini adalah pengalaman yang bagus bagi saya," ujar Xeniya. 

Meski berhasil mengamankan poin solid, Xeniya menegaskan bahwa pertarungan melawan Laysa tidak didapat dengan mudah. Ia menilai ketenangannya dalam mengelola krisis waktu (time pressure) menjadi kunci utama yang membedakan permainannya dengan sang lawan.

"Laysa adalah pemain yang sangat kuat. Saya sudah pernah bertemu dengannya tahun ini di Kejuaraan Asia. Pertandingan tadi cukup berat, terutama di nomor catur klasik. Dia memberikan tekanan kepada saya, dan saya mencoba bertahan serta menekan balik. Saya tidak akan mengatakan ini sangat sulit, tetapi juga bukan pertandingan yang paling mudah. Dia memberikan beberapa masalah bagi saya di papan catur. Namun, saya rasa saya bermain lebih baik saat berada dalam tekanan waktu (time pressure) dibandingkan dia, dan itu sangat membantu saya untuk mendapatkan lebih banyak poin," jelasnya.

Selain mengulas teknis pertandingan, pecatur yang kini berada di jajaran lima besar Kazakhstan tersebut memberikan apresiasi terhadap kualitas serta perkembangan pecatur putri Indonesia di kancah internasional.

Pecatur Wanita Indonesia Punya Prospek Cerah, Asal Sering Ikut Turnamen di Mancanegara 

"Saya pikir pecatur Indonesia bagus, terutama pecatur wanitanya. Mereka memiliki banyak pemain bagus sejak dulu. Saya rasa perkembangannya terus meningkat, dan sangat menyenangkan melihat turnamen seperti ini karena membantu para pemain untuk bertanding. Saya yakin generasi muda di sini akan tumbuh menjadi sangat kuat," tuturnya.

Kunjungan keduanya ke Indonesia—setelah sebelumnya berlaga di Bali pada ajang Asian Youth Championship—meninggalkan kesan mendalam bagi Xeniya. Ia mengaku menikmati keramahan masyarakat serta kuliner lokal di Jakarta selama kompetisi berlangsung.

"Saya menikmati waktu saya di Indonesia. Semua orang sangat ramah dan selalu berusaha membantu. Saya menyukai pengalaman saya di sini, terutama di Jakarta. Saya sudah mencoba beberapa makanan lokal, saya tidak ingat namanya, tapi secara keseluruhan saya menikmati setiap makanan yang saya coba di sini. Saya tidak suka makanan yang sangat pedas, jadi saya mencoba mencari yang tingkat pedasnya rendah," ungkap Xeniya. (Jordan dari berbagai sumber)


JAPFA Chess Festival 2026 Terbilang Sukses


Jakarta- Turnamen catur JAPFA Chess Festival 2026 sukses digelar selama enam hari mulai 1-6 September di Wisma Serbaguna, Senayan, Jakarta.Kendati tak satupun pecatur tuan rumah yang berhasil mengalah pecatur asal Vietnam (putra) dan Kazakhstan (putri). 

Sukses ukurannya adalah dalam penyelenggaraan selama 6 hari tak ada satupun peserta yang protes. Segi lain adalah prestasi pecatur putri kali ini lebih meningkat. Demikian ditegaskan oleh Waketum PB Percasi Pandapotan Sinaga dalam menutup turnamen ini. 

Pandapotan menyoroti pentingnya kejuaraan ini sebagai ajang pemanasan dan pembinaan atlet menjelang kompetisi internasional tingkat tinggi, sekaligus menjadi wadah regenerasi pecatur tanah air.

"Dengan kegiatan ini, bisa menambah latihan yang dilakukan para pemain-pemain catur, terlebih para pecatur-pecatur muda yang ada di kita. Hari ini dari laporan Pak Henry Jamals bahwa juaranya saja sekarang umur 12 tahun," ujar Pandapotan pada sambutan penutupan turnamen. 

 Ia berharap sinergi dengan dunia usaha dapat terus berlanjut dan memicu keterlibatan korporasi lain untuk turut serta menyelenggarakan kejuaraan serupa demi mencetak lebih banyak Grandmaster baru bagi Indonesia. 

"Jadi sekali lagi, saya sangat bangga, apalagi ada pecatur muda yang juara hari ini, bisa menambah pundi-pundi atau pemain-pemain kita yang berbakat untuk bisa kita kembangkan, dan mudah-mudahan bisa menghasilkan grandmaster-grandmaster yang baru.

Jadi kedepannya ada penambahan perbendaharaan grandmaster pecatur kita di Indonesia ini," ungkapnya. Pandapotan menegaskan komitmen PB Percasi untuk terus memperbanyak ruang kompetisi bagi para atlet serta menyampaikan terima kasih atas dedikasi berkelanjutan dari pihak JAPFA.

Pada kategori Senior Putri, WNM Veronica Jefany Sheryl Kichi Makalew dari Jawa Timur menjadi juara dengan 7 poin. WNM Zilla Altofun Nisa dari Jawa Barat berada di posisi kedua dengan 6,5 poin sedangkan Nafisah Hanun dari Banten menempati peringkat ketiga dengan 6 poin. Kategori Veteran dimenangi FM Johan Gunawan dari Banten dengan 7,5 poin.

FM Maksum Firdaus dari Sumatera Selatan dan NM Aris Tls dari DKI Jakarta juga mengoleksi 7,5 poin tetapi masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga berdasarkan kriteria penentuan peringkat. Di kelompok junior putra, Arya Prima dari Sumatera Selatan menjuarai U-18 dengan 7,5 poin. AGM Jessen Michael Aiji Pranata dari Jawa Barat memimpin U-14 dengan 8 poin lalu M Nabil Muzakki dari Jawa Barat menjadi juara U-10 dengan 8,5 poin.

Pada kelompok junior putri, Danesh Syauqina Putri dari DKI Jakarta menjadi juara G-18 dengan 8 poin. Chavi Alisha Egbert Dawn dari DIY menyapu bersih G-14 dengan 9 poin, sedangkan Evelyn Tria Lienora dari DKI Jakarta juga meraih poin sempurna 9 untuk menjadi juara G-10.

Sementara itu, nomor blitz menjadi milik IM Arif Abdul Hafiz dengan 8,5 poin disusul FM Zacky Dhiaulhaq dan IM Yosep Taher yang menempati posisi kedua dan ketiga dengan masing-masing 8 poin. (Jordan)


 

Satria:Event Japfa CHES Festival 2026 Jadi Pengalaman Berharga

Sabtu, 05 September 2026


Jakarta -Seperti sudah diprediksi dari awal bahwa dua pecatur Indonesia bakal kesulitan melawan pecatur asal Vietnam dan Kazakhstan. Namun ada segi positifnya, pasalnya menjadi pengalaman berharga.  Terutama bagi Satria jelang terjun di event Olimpiade catur. 

Ajang duel match internasional dalam ajang Japfa Chess Festival 2026 di Jakarta resmi berakhir pada Sabtu (5/9). Dua pecatur muda andalan Indonesia, IM Satria Duta Cahaya dan WIM Laysa Latifah, harus mengakui keunggulan lawan masing-masing setelah menyelesaikan total 10 babak pertandingan.

Sesi akhir turnamen menjadi ujian berat bagi kedua pecatur tuan rumah, khususnya pada babak 7 hingga 10. Di kategori putra, IM Satria Duta Cahaya (rating 2412) menghadapi tantangan besar dari wakil Vietnam, IM Khuong Duy Dau (2509). Memasuki babak ketujuh, Duta yang memegang buah putih harus menyerah kalah.

Harapan sempat muncul pada babak kedelapan ketika Duta yang bermain dengan buah hitam mampu menahan imbang pecatur Vietnam tersebut. Namun, momentum itu belum cukup untuk membalikkan keadaan. Pada dua babak terakhir, Duta kembali kehilangan poin dan harus mengakui keunggulan Khuong Duy pada babak kesembilan serta ke-10. Duta menutup duel internasional dengan skor akhir 3-7

Meski gagal meraih kemenangan, Satria Duta menilai pertandingan ini sebagai pengalaman berharga, terutama sebagai persiapan menghadapi Olimpiade Catur yang akan berlangsung di Uzbekistan dalam dua pekan ke depan.

Pasti ini lawannya kuat. Jadi pengalaman buat ajang Olimpiade Catur nanti. Harapannya pasti yang terbaik lah di Olimpiade, mungkin dapat norma GM (Grandmaster)," ujar Duta.

Demikian halnya Kondisi serupa dialami WIM Laysa Latifah (rating 2213) yang berhadapan dengan pecatur Kazakhstan, WGM Xeniya Balabayeva (rating 2384). Laysa sempat menelan kekalahan beruntun pada babak ketujuh dan kedelapan.

Namun, Laysa menunjukkan semangat pantang menyerah pada babak kesembilan. Bermain dengan buah putih, ia berhasil memetik kemenangan atas Balabayeva. Sayangnya, pada babak penutup (ke-10), Laysa kembali harus mengakui keunggulan lawan dan mengakhiri duel dengan skor akhir 2-8.

      Jadi Bahan Evaluasi PB Percasi


Dewan Pembina PB Percasi, GM Utut Adianto, menegaskan bahwa kekalahan kedua pecatur muda tersebut tidak perlu disesali. Menurutnya, duel melawan pemain kuat adalah bahan evaluasi krusial bagi tim pelatih, termasuk Susanto Megaranto dan Tirta Chandra Purnama.

"Kalau kekalahan itu tidak perlu disesali. Yang paling penting para pelatih untuk memahami apa kekuatan atlet kita, sampai di mana mereka menyerap. Satu hal, pemain kita itu kalau kena pukul sekali biasanya sulit kembali terhadap lawan yang sama. Ini yang harus kita perkuat," kata Utut, usai memberikan coaching klinik usai pertandingan.

Utut juga menyoroti tantangan besar Indonesia dalam melahirkan pecatur "absolut kelas dunia" yang mampu bersaing konsisten di jajaran elite global. Saat ini, Indonesia memiliki sembilan Grandmaster (empat di antaranya telah wafat) dan tiga Women Grandmaster.

Sementara itu , Sekjen PB Percasi Nanang Pujalaksana menyebut duel internasional ini merupakan sarana mengukur hasil pembinaan pelatnas. "Kita bisa mengukur sejauh mana pelatihan yang kita lakukan saat berhadapan dengan pemain luar. Vietnam dan Kazakhstan memiliki tradisi catur yang sangat baik," jelas Nanang.

Terkait proyeksi Grandmaster baru, Nanang menyatakan Percasi terus memantau bakat-bakat muda secara komprehensif. "Proyeksi sudah ada, tapi siapa pemainnya masih kita pantau terus karena konsistensi di berbagai turnamen menjadi kunci," tadasnya.

Selain duel internasional, hari kelima Japfa Chess Festival 2026 juga dimeriahkan dengan agenda coaching clinic bersama GM Utut Adianto serta diskusi mengenai manfaat catur dalam membangun kemampuan berpikir kritis pada anak.

Sementara untuk nomor kategori open hingga babak kesembilan Gilbert Elroy Tarigan memimpin dengan 7,5 poin diikuti Fabian Glen Mariano dengan poin yang sama. Posisi ketiga ada Arif Abdul Hafiz dengan 7 poin. (Jordan)


Alami Dua Kekalahan Beruntun Posisi Shavira Turun Drastis

Ket foto: WIM Shavira Devi Ervesha Masih Berpeluang Juara,Di Kategori Open Japfa CHES Festival ke-16 2026. Kendati Mengalami Dua Kekalahan Beruntun. (Ist)

Jakarta-Mengalami dua kekalahan beruntun WIM Shafira Devi Herfesa di kategori Open JAPFA Chess Festival ke-16 Tahun 2026.  Membuat pecatur muda ini terlempar dari 10 besar.  

Padahal setelah tampil luar biasa dan memimpin sendirian dengan torehan sempurna 5 Victory Point (VP) hingga babak kelima, pecatur muda asal Daerah Istimewa Yogyakarta.

Namun dalam ujian berikut nya, ia harus menerima dua kekalahan beruntun pada babak keenam dan ketujuh. Pada babak keenam, Shafira yang memiliki rating Elo 2303 harus mengakui keunggulan IM Anjas Novita (2351).

Kekalahan tersebut membuat koleksi Shafira tetap bertahan di angka 5 VP. Pukulan kedua datang pada babak ketujuh ketika ia kembali gagal menambah angka setelah ditundukkan pecatur senior berpengalaman, IM Danny Juswanto (2223).

Hasil dua babak tersebut membuat posisi Shafira merosot ke peringkat ke-13 klasemen sementara dengan tetap mengantongi 5 VP.

Sejatinya, sampai babak kelima, pecatur kelahiran 13 Desember 2008 tersebut tampil tanpa cela dengan lima kemenangan berturut-turut.

Puncaknya terjadi pada babak kelima ketika Shafira berhasil menundukkan IM Azarya Jodi Setyaki yang memiliki rating 2349.

Kemenangan atas salah satu seniornya itu sekaligus membuat Shafira seorang diri menguasai puncak klasemen dengan 5 VP. Namun, dua kekalahan yang membuat Shafira seperti tergelincir itu tidak berarti perjalanan Shafira berakhir.

Dengan masih mengantongi 5 VP, jaraknya dengan kelompok papan atas belum membuat peluangnya tertutup. Setelah tujuh babak, empat pecatur berada di puncak dengan 6 VP, yakni IM Anjas Novita, IM Gilbert Elroy Tarigan, FM Fabian Glen Mariano dan IM Danny Juswanto.

Dengan dua kali mengalami kekalahan, persaingan masih sangat terbuka dan Shafira masih memiliki kesempatan memperbaiki posisinya pada babak-babak berikutnya. 

Bagi Shafira, pengalaman menghadapi para senior di JAPFA Chess Festival 2026 justru menjadi bagian penting dari proses pematangan kariernya. 

Statusnya sebagai WIM menunjukkan bahwa ia bukan lagi sekadar pecatur junior yang sedang mencari pengalaman. Dalam daftar awal turnamen, Shafira bahkan ditempatkan sebagai unggulan ke-12 dengan Elo 2303, di tengah kepungan para pecatur bergelar IM, FM dan NM.

Perjalanan Shafira menuju level tersebut juga tidak terjadi secara instan. Seperti diketahui,  ia mulai diperkenalkan dengan catur oleh ayahnya sejak usia tiga tahun dan mulai mengikuti kompetisi sejak kelas 2 SD.

Shavira kemudian masuk pelatnas junior sejak Agustus 2023. Pada 2024, Shafira meraih medali emas PON Aceh-Sumatera Utara, sebelum membuat kejutan besar pada Asian Zone 3.3 Chess Championship 2025 di Ulaanbaatar, Mongolia.

Ia menjadi juara dengan 7 poin dari sembilan babak dan sekaligus memperoleh gelar WIM serta tiket ke FIDE Women's World Cup 2025. Kini, setelah dua kali tergelincir, Shafira tentu dituntut segera bangkit.

Dua  kekalahan beruntun bukanlah akhir dari segalanya. Ibarat seekor burung mungil yang sempat kehilangan pijakan di ranting, Shafira masih memiliki kesempatan mengepakkan sayap dan kembali bertengger di papan atas. 

Juustru di sinilah mental seorang pecatur diuji: bukan hanya bagaimana menang ketika berada di atas, tetapi bagaimana bangkit setelah jatuh. Arena JAPFA Chess Festival 2026 masih menantikan kejutan berikutnya dari si mungil nan tangguh Shafira Herfesa. (Jordan dari berbagai sumber)





 



BOLA JERMAN

FIGUR

TINJU

RAKET

BASKET