Ketua Umum PP MPI Marsda TNI Purwoko Aji Prabowo menyampaikan kesiapan PP MPI menyambut Kejuaraan Modern Pentathlon Piala Panglima TNI 2026 di AAU Yogyakarta sekaligus persiapan lima atlet Indonesia menuju Asian Games 2026 Aichi-Nagoya.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Panglima Koopsudnas (Pangkoopsudnas) Marsekal Madya TNI Minggit Tribowo, S.I.P., serta Kepala Staf Koopsudnas (Kaskoopsudnas) Marsekal Muda TNI Dr. Ir. Purwoko Aji Prabowo, M.M., M.D.S.
Turnamen Piala KASAU Cup dijadwalkan berlangsung pada 23 September hingga 4 Oktober 2026 di Lapangan Koopsudnas Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Kejuaraan ini akan mempertandingkan kategori kelompok usia 16 tahun (U-16) dan 18 tahun (U-18).
Sejumlah klub dari berbagai daerah dipastikan berpartisipasi, meliputi perwakilan dari Lampung, Jawa Timur, Sumatra Utara, Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Pangkoopsudnas Marsekal Madya TNI Minggit Tribowo menyampaikan bahwa kejuaraan ini merupakan wujud nyata pembinaan prestasi olahraga yang rutin dilakukan TNI AU.
"Ini menjadi bagian dari pembinaan prestasi olahraga. Selain sepak bola, kami juga menggelar Piala Panglima TNI untuk cabang olahraga pentatlon dan panahan, serta beberapa cabang olahraga lainnya sebagai sumbangsih TNI AU dalam menyambut HUT ke-81 TNI," ujar Minggit di hadapan awak media.
"Kita semua berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. TNI AU menyiagakan personel, pesawat intai F-16, helikopter water bombing jenis Caracal, hingga bantuan logistik untuk mendukung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatra, dan Jawa," tandasnya. (Jordan)
Xeniya dengan lugas menjawab semua pertanyaan. Kecerdasannya membuat ia, masuk jajaran 5 besar wanita di negaranya. Dengan kecantikannya dan permainan caturnya taktis membuat menarik perhatian khusus bagi para peserta Turnamen Catur JAPFA Chess Festival 2026 selama seminggu ini.
Betapa tidak, WGM Xeniya Balabayeva bukan hanya berhasil keluar sebagai juara usai mengungguli wakil Indonesia, WFM Laysa Latifah dengan 8 poin berbanding 2 poin.
Tapi, kecantikan gadis asal pecahan Uni Sovyet itu, merupakan sosok wanita yang cerdas. Xeniya tampil dominan sekaligus memanfaatkan ajang ini untuk menguji sejumlah strategi baru di papan catur.
"Secara keseluruhan, turnamen ini sangat bagus bagi saya. Saya menang dengan hasil yang cukup solid. Saya mencoba memainkan beberapa strategi yang menarik bagi saya, melakukan lebih banyak eksperimen, dan sebagainya. Saya harap lawan saya juga menikmati pertandingan ini. Secara pribadi, ini adalah pengalaman yang bagus bagi saya," ujar Xeniya.
Meski berhasil mengamankan poin solid, Xeniya menegaskan bahwa pertarungan melawan Laysa tidak didapat dengan mudah. Ia menilai ketenangannya dalam mengelola krisis waktu (time pressure) menjadi kunci utama yang membedakan permainannya dengan sang lawan.
"Laysa adalah pemain yang sangat kuat. Saya sudah pernah bertemu dengannya tahun ini di Kejuaraan Asia. Pertandingan tadi cukup berat, terutama di nomor catur klasik.
Dia memberikan tekanan kepada saya, dan saya mencoba bertahan serta menekan balik. Saya tidak akan mengatakan ini sangat sulit, tetapi juga bukan pertandingan yang paling mudah.
Dia memberikan beberapa masalah bagi saya di papan catur. Namun, saya rasa saya bermain lebih baik saat berada dalam tekanan waktu (time pressure) dibandingkan dia, dan itu sangat membantu saya untuk mendapatkan lebih banyak poin," jelasnya.
Selain mengulas teknis pertandingan, pecatur yang kini berada di jajaran lima besar Kazakhstan tersebut memberikan apresiasi terhadap kualitas serta perkembangan pecatur putri Indonesia di kancah internasional.
Pecatur Wanita Indonesia Punya Prospek Cerah, Asal Sering Ikut Turnamen di Mancanegara
"Saya pikir pecatur Indonesia bagus, terutama pecatur wanitanya. Mereka memiliki banyak pemain bagus sejak dulu.
Saya rasa perkembangannya terus meningkat, dan sangat menyenangkan melihat turnamen seperti ini karena membantu para pemain untuk bertanding. Saya yakin generasi muda di sini akan tumbuh menjadi sangat kuat," tuturnya.
Kunjungan keduanya ke Indonesia—setelah sebelumnya berlaga di Bali pada ajang Asian Youth Championship—meninggalkan kesan mendalam bagi Xeniya. Ia mengaku menikmati keramahan masyarakat serta kuliner lokal di Jakarta selama kompetisi berlangsung.
"Saya menikmati waktu saya di Indonesia. Semua orang sangat ramah dan selalu berusaha membantu. Saya menyukai pengalaman saya di sini, terutama di Jakarta. Saya sudah mencoba beberapa makanan lokal, saya tidak ingat namanya, tapi secara keseluruhan saya menikmati setiap makanan yang saya coba di sini. Saya tidak suka makanan yang sangat pedas, jadi saya mencoba mencari yang tingkat pedasnya rendah," ungkap Xeniya. (Jordan dari berbagai sumber)
Pada kategori Senior Putri, WNM Veronica Jefany Sheryl Kichi Makalew dari Jawa Timur menjadi juara dengan 7 poin. WNM Zilla Altofun Nisa dari Jawa Barat berada di posisi kedua dengan 6,5 poin sedangkan Nafisah Hanun dari Banten menempati peringkat ketiga dengan 6 poin. Kategori Veteran dimenangi FM Johan Gunawan dari Banten dengan 7,5 poin.
FM Maksum Firdaus dari Sumatera Selatan dan NM Aris Tls dari DKI Jakarta juga mengoleksi 7,5 poin tetapi masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga berdasarkan kriteria penentuan peringkat. Di kelompok junior putra, Arya Prima dari Sumatera Selatan menjuarai U-18 dengan 7,5 poin. AGM Jessen Michael Aiji Pranata dari Jawa Barat memimpin U-14 dengan 8 poin lalu M Nabil Muzakki dari Jawa Barat menjadi juara U-10 dengan 8,5 poin.
Pada kelompok junior putri, Danesh Syauqina Putri dari DKI Jakarta menjadi juara G-18 dengan 8 poin. Chavi Alisha Egbert Dawn dari DIY menyapu bersih G-14 dengan 9 poin, sedangkan Evelyn Tria Lienora dari DKI Jakarta juga meraih poin sempurna 9 untuk menjadi juara G-10.
Sementara itu, nomor blitz menjadi milik IM Arif Abdul Hafiz dengan 8,5 poin disusul FM Zacky Dhiaulhaq dan IM Yosep Taher yang menempati posisi kedua dan ketiga dengan masing-masing 8 poin. (Jordan)