Jakarta-Untuk sementara dua pecatur Indonesia harus tertinggal hingga babak kedua, di kategori duel match JAPFA Chess Festival 2026, dua pecatur Indonesia IM Satria Duta Cahaya (2412) dan WIM Laisa Latifah (2213), dinilai masih berpeluang.
Seperti diketahui, keduanya harus mengakui keunggulan lawan-lawannya pada laga yang berlangsung di Wisma Serbaguna Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026). Satria Duta menyerah pada langkah ke-43 usai memainkan Pembukaan Italia melawan pecatur Vietnam, IM Cuong Duy Dao (2509).
Menanggapi kekalahannya pada babak kedua Duta mengatakan, tidak lepas dari tekanan waktu dan kurangnya kewaspadaan di momen kritis.
Lawan yang dihadapi dinilainya memiliki gaya permainan menyerang yang sangat tajam serta unggul dari segi peringkat FIDE.
Meski demikian, Duta menegaskan komitmennya untuk segera bangkit dan membenahi strategi pada sisa babak yang ada.
"Babak ini harusnya saya posisinya tidak kalah lah, tapi saya mungkin kena karena waktu terdesak dan banyak hal lain, jadinya lama-lama terus kalah.
"Jelas targetnya ya pasti menang duel match ini. Di sisa babak mungkin lebih nyerang sih biar coba cari poin berikutnya. Tapi kalau enggak yang klasik enggak bisa menang, ya minimal remis dulu," ujar Satria Duta usai laga.
Menanggapi ketertinggalan dua wakil tuan rumah ini mendapat perhatian serius dari pengamat catur nasional, Kristianus Liem. Kris menilai bahwa secara elorating, para pecatur asing yang dihadapi memang lebih unggul.
Menurutnya, ketertinggalan pecatur Indonesia lebih dipengaruhi oleh faktor inisiatif mandiri, keuletan di papan catur, serta minimnya jam terbang dalam mengarungi turnamen catur klasik di tingkat internasional jika dibandingkan dengan pecatur luar negeri.
Kendati demikian, Kris menyebut peluang Indonesia untuk mengejar ketertinggalan di sisa turnamen masih cukup terbuka.
Masih menurut mantan Kabid Binpres PB Percasi ini, bahwa pecatur Indonesia memiliki keunggulan karakteristik saat bertanding di nomor catur cepat (rapid) dan catur kilat (blitz) karena faktor kebiasaan kompetisi lokal.
Kris berharap Duta maupun Laisa bisa tampil lebih agresif dan memanfaatkan kesempatan memegang buah putih pada babak catur klasik berikutnya sebelum memasuki kategori catur cepat.
"Jujur harus kita akui, kalau untuk catur klasik agak repot, ya. Karena itu memang benar-benar kelas mereka kelihatan benar di situ. Enggak bisa lari. Tapi kalau di rapid nanti sama di blitz, nah ini pecatur kita nih agak unggul gitu, ya.
"Jadi peluangnya ada di catur cepat dan catur klat. Jadi kita balas di sisa partai kilat dan cepat. Kita bisa unggul karena main cepatnya. Karena memang kebanyakan turnamen kita jago di dua nomor itu. Kemungkinan bisa dibilang 90% lah.
Kedua pecatur kita itu bisa ambil poin di partai sisanya.
Jadi mereka, pecatur kita lebih banyak lebih matang gitu, ya,main di blitz, di rapid gitu. Mungkin bisa ngambilnya di rapid, blitz gitu,” tandas Kris dengan optimis.
“Kalau di klasik saya kira berat, ya. Begitu pegang putih seperti enggak ngelawan, ya. Pegang putih unggul tapi enggak bisa nyelesaiin. Hasilnya draw gitu. Jadi ya Itu situasi yang kelihatan,” imbuhnya.
Sementara itu di kategori open, persaingan hingga babak ketiga masih sengit. Saat ini masih terdapat, 11 pecatur meraih poin sempurna usai mendapat tiga kemenangan beruntun. Ke-11 atlet itu secara berurutan adalah NM Marwanto, IM Anjas Novita, IM Gilbert Elroy, Nathanael, FM Fabian Glen Mariano, IM Arif Abdul Hafiz, IM Nayaka Budhidharma, IM Azarya Jodi Setyaki, FM Muhammad Kamalsyah, NM Ahmad Fauzi dan WIM Shavira Devi Hervesha. (Jordan)






