GM Novendra berhasil menuntaskan perlawanan Stevanky dalam pertandingan panjang hingga 65 langkah. Kemenangan tersebut membuatnya mengoleksi 4,5 poin, hasil dari empat kemenangan dan satu kali remis. Raihan poin itu menempatkan Novendra sejajar dengan International Master (IM) Muhamad Lutfi Ali di posisi teratas klasemen sementara.
Pertandingan melawan Stevanky menjadi salah satu laga paling menegangkan yang dijalani Novendra sepanjang turnamen. Juara Kejurnas tahun lalu itu mampu memberi tekanan konstan dan memaksa duel berjalan alot hingga fase akhir permainan.
“Pertandingannya alot, dia bagus mainnya. Posisi sempat bolak-balik dan hampir remis karena waktu saya tinggal tiga menit terakhir,” kata Novendra.
Menggunakan pembukaan Rossolimo, Novendra sebenarnya merasa mampu menguasai permainan sejak awal. Aktivitas seluruh buah caturnya dinilai lebih efektif dibanding lawan. Namun, keunggulan posisi tersebut tidak mudah dikonversi menjadi kemenangan karena Stevanky tampil disiplin menjaga pertahanan.
Situasi makin rumit ketika pertandingan memasuki fase endgame atau akhir permainan. Stevanky memiliki dua gajah aktif yang terus mengganggu struktur permainan Novendra. Dalam kondisi kritis, Novendra memilih langkah agresif dengan mengorbankan pion di petak e5 untuk membuka ruang serangan dan mengaktifkan gajahnya di petak g3.
Keputusan itu menjadi titik balik pertandingan. Meski sempat kesulitan membongkar pertahanan lawan, Novendra akhirnya mampu memanfaatkan celah dan mengunci kemenangan di langkah ke-65.
Hasil tersebut sekaligus membuka jalan menuju duel panas pada ronde keenam. Novendra dijadwalkan menghadapi IM Muhamad Lutfi Ali, rival lamanya sejak kecil yang juga belum tersentuh kekalahan di turnamen ini.
Bagi Novendra, laga melawan Lutfi dipastikan tidak akan mudah. Ia menilai karakter permainan Lutfi sangat solid dan sulit ditembus, berbeda dengan gaya bermainnya yang lebih agresif dan penuh kombinasi taktis.
Meski menyandang gelar Grandmaster, Novendra menegaskan tidak ingin terbebani status maupun perbedaan rating saat menghadapi Lutfi.
“Enggak ada beban sih. Saya enggak pernah terlalu melihat gelar atau rating lawan. Yang penting main bagus dan tetap fokus,” ucapnya.
Sementara itu, persaingan papan atas juga semakin ketat setelah IM Satria Duta Cahaya mulai menempel posisi elite klasemen. Duta kini berada di peringkat keempat dengan empat poin setelah mengalahkan Gelar Sagara Dwitama pada babak kelima.
Pecatur muda tersebut mengaku performanya di turnamen masih belum sepenuhnya stabil karena sempat membuka kompetisi dengan dua hasil remis. Namun, tiga kemenangan beruntun membuat kepercayaan dirinya kembali meningkat.
“Semoga empat babak terakhir bisa maksimal. Dua ronde awal memang remis, tapi untungnya tiga babak terakhir bisa menang,” kata Duta.
Duta menegaskan target utamanya tetap menjadi juara turnamen. Jika gagal finis di posisi pertama, ia berharap setidaknya mampu mendongkrak elo rating internasionalnya. "Target pasti juara. Kalau belum bisa juara, minimal rating bertambah,” ujarnya.
Di kategori Challenger, persaingan juga berlangsung ketat. Abraham Raja Ferdinand dan Sudung Tampubolon masih mempertahankan rekor sempurna hingga ronde kelima. Keduanya sama-sama mengoleksi lima poin penuh dan memimpin klasemen sementara.
Tak hanya menghadirkan persaingan sengit antarapecatur nasional, JAPFA FIDE Rated 2026 juga mendapat perhatian karena mengusung semangat inklusivitas. Turnamen ini diikuti atlet catur difabel dari NPC Indonesia yang bersaing bersama peserta umum di kategori Open maupun Challenger sesuai elo rating masing-masing.
Sajian yang menarik kali ini adalah tampilnys sekitar 12 difabel, tiga di antaranyatuna netra turut ambil bagian dalam turnamen internasional tersebut. Kehadiran mereka mendapat apresiasi dari pihak penyelenggara.
VP Head of Social Investment JAPFA, R. Artsanti Alif, menilai partisipasi atlet para catur menjadi bukti bahwa kompetisi ini terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang kondisi fisik.
“Kehadiran atlet Para Chess menjadi apresiasi tersendiri bagi JAPFA. Ini menunjukkan turnamen FIDE Rated yang digelar bersama Percasi mampu menjadi ajang yang inklusif,” ujar Artsanti.
Menurut dia, kesempatan tampil di turnamen berlevel FIDE menjadi momentum penting bagi seluruh pecatur Indonesia untuk meningkatkan pengalaman bertanding sekaligus mendongkrak elo rating internasional.
“Kami berharap kompetisi ini membuka peluang seluas-luasnya bagi siapa pun yang memiliki minat dan kemampuan di olahraga catur, termasuk atlet disabilitas,” tutupnya.(Jordan)

