Jakarta -Seperti sudah diprediksi dari awal bahwa dua pecatur Indonesia bakal kesulitan melawan pecatur asal Vietnam dan Kazakhstan. Namun ada segi positifnya, pasalnya menjadi pengalaman berharga. Terutama bagi Satria jelang terjun di event Olimpiade catur.
Ajang duel match internasional dalam ajang Japfa Chess Festival 2026 di Jakarta resmi berakhir pada Sabtu (5/9). Dua pecatur muda andalan Indonesia, IM Satria Duta Cahaya dan WIM Laysa Latifah, harus mengakui keunggulan lawan masing-masing setelah menyelesaikan total 10 babak pertandingan.
Sesi akhir turnamen menjadi ujian berat bagi kedua pecatur tuan rumah, khususnya pada babak 7 hingga 10. Di kategori putra, IM Satria Duta Cahaya (rating 2412) menghadapi tantangan besar dari wakil Vietnam, IM Khuong Duy Dau (2509). Memasuki babak ketujuh, Duta yang memegang buah putih harus menyerah kalah.
Harapan sempat muncul pada babak kedelapan ketika Duta yang bermain dengan buah hitam mampu menahan imbang pecatur Vietnam tersebut. Namun, momentum itu belum cukup untuk membalikkan keadaan. Pada dua babak terakhir, Duta kembali kehilangan poin dan harus mengakui keunggulan Khuong Duy pada babak kesembilan serta ke-10. Duta menutup duel internasional dengan skor akhir 3-7
Meski gagal meraih kemenangan, Satria Duta menilai pertandingan ini sebagai pengalaman berharga, terutama sebagai persiapan menghadapi Olimpiade Catur yang akan berlangsung di Uzbekistan dalam dua pekan ke depan.
Pasti ini lawannya kuat. Jadi pengalaman buat ajang Olimpiade Catur nanti. Harapannya pasti yang terbaik lah di Olimpiade, mungkin dapat norma GM (Grandmaster)," ujar Duta.
Demikian halnya Kondisi serupa dialami WIM Laysa Latifah (rating 2213) yang berhadapan dengan pecatur Kazakhstan, WGM Xeniya Balabayeva (rating 2384). Laysa sempat menelan kekalahan beruntun pada babak ketujuh dan kedelapan.
Namun, Laysa menunjukkan semangat pantang menyerah pada babak kesembilan. Bermain dengan buah putih, ia berhasil memetik kemenangan atas Balabayeva. Sayangnya, pada babak penutup (ke-10), Laysa kembali harus mengakui keunggulan lawan dan mengakhiri duel dengan skor akhir 2-8.
Jadi Bahan Evaluasi PB Percasi
Dewan Pembina PB Percasi, GM Utut Adianto, menegaskan bahwa kekalahan kedua pecatur muda tersebut tidak perlu disesali. Menurutnya, duel melawan pemain kuat adalah bahan evaluasi krusial bagi tim pelatih, termasuk Susanto Megaranto dan Tirta Chandra Purnama.
"Kalau kekalahan itu tidak perlu disesali. Yang paling penting para pelatih untuk memahami apa kekuatan atlet kita, sampai di mana mereka menyerap. Satu hal, pemain kita itu kalau kena pukul sekali biasanya sulit kembali terhadap lawan yang sama. Ini yang harus kita perkuat," kata Utut, usai memberikan coaching klinik usai pertandingan.
Utut juga menyoroti tantangan besar Indonesia dalam melahirkan pecatur "absolut kelas dunia" yang mampu bersaing konsisten di jajaran elite global. Saat ini, Indonesia memiliki sembilan Grandmaster (empat di antaranya telah wafat) dan tiga Women Grandmaster.
Sementara itu , Sekjen PB Percasi Nanang Pujalaksana menyebut duel internasional ini merupakan sarana mengukur hasil pembinaan pelatnas. "Kita bisa mengukur sejauh mana pelatihan yang kita lakukan saat berhadapan dengan pemain luar. Vietnam dan Kazakhstan memiliki tradisi catur yang sangat baik," jelas Nanang.
Terkait proyeksi Grandmaster baru, Nanang menyatakan Percasi terus memantau bakat-bakat muda secara komprehensif. "Proyeksi sudah ada, tapi siapa pemainnya masih kita pantau terus karena konsistensi di berbagai turnamen menjadi kunci," tadasnya.
Selain duel internasional, hari kelima Japfa Chess Festival 2026 juga dimeriahkan dengan agenda coaching clinic bersama GM Utut Adianto serta diskusi mengenai manfaat catur dalam membangun kemampuan berpikir kritis pada anak.
Sementara untuk nomor kategori open hingga babak kesembilan Gilbert Elroy Tarigan memimpin dengan 7,5 poin diikuti Fabian Glen Mariano dengan poin yang sama. Posisi ketiga ada Arif Abdul Hafiz dengan 7 poin. (Jordan)
.webp)
