Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

BOLA NASIONAL

BOLA INGGRIS

POPULER

SOROTAN

SEA GAMES

Main Olahragaonline.com

Tampilkan postingan dengan label Equstrian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Equstrian. Tampilkan semua postingan

Pelatnas Equestrian SEA Games di APM Equestrian Center

Minggu, 23 April 2017

ADRIA Pratama Mulya (APM) Equestrian Center yang berlokasi di Kecamatan Tiga Raksa Kabupaten Tangerang mendapat kehormatan dari Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) sebagai tempat pelaksanaan pusat pelatihan nasional/Training Camp (TC) Tim Equestrian Indonesia yang diproyeksikan ke SEA Games 2017 di Malaysia. Hal tersebut disampaikan Nadia Marciano selaku pemilik APM Equestrian Center.

"Kami mendapat kehormatan dari PP Pordasi selaku induk cabor yang menaungi equestrian Indonesia sebagai tempat pelaksanaan pelatnas equestrian menuju SEA Games 2017. Untuk tahap pertama sudah dilaksanakan pada sekitar Februari lalu," kata Nadia di sela-sela penyelenggaraan Charity Show (Pertunjukkan Amal) yang didedikasikan untuk membalas jasa orang-orang yang selama membantu kegiatan kuda di Indonesia. Baik yang bertindak selaku pelatih maupun groom (perawat kuda) yang sudah pensiun atau dalam kondisi membutuhkan bantuan.

Kegiatan amal ini diselenggarakan di APM Equestrian Center Tiga Raksa, Kabupaten Tangerang, mulai Jumat (21/4) sampai dengan Minggu (23/4). Bakti sosial yang kedua kali ini turut diramaikan oleh para atlet pelatnas Equestrian Indonesia yang akan berlaga di SEA Games 2017. Sebagaimana pelatnas tahap pertama, untuk tahap kedua juga akan dilaksanakan di APM Equestrian Center.

Nadia mengaku senang karena PP Pordasi dan para atlet peserta pelatnas cukup puas dengan kualitas dan kelengkapan fasilitas yang disediakan APM Equestrian Center. "Syukur alhamdullilah tidak ada keluhan. Semua berjalan dengan baik. Kita sediakan semua termasuk ruangan untuk penginapan atlet," tutur Nadia.

Namun demikian, sambung Nadia, pihaknya tetap komit untuk bisa memberikan pelayanan terbaik guna memaksimalkan proses pelatnas Tim Equestrian Indonesia ke SEA Games 2017. Sejalan dengan misi tersebut, untuk pelaksanaan pelatnas tahap kedua, Nadia berniat untuk mendatangkan motivator. Diharapkan peran motivator dapat memantapkan tekad dan semangat para atlet pelatnas untuk bisa meraih hasil terbaik di SEA Games 2017 nanti.

"Kami belum menetapkan siapa nantinya motivator yang akan kita datang untuk memotivasi para atlet pelatnas. Saya masih diskusikan dengan ayah saya, Marciano Norman. Karena sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia, selama ini papa sering mendatangkan motivator dalam pelaksanaan pelatnas taekwondo," terang Nadia.

"Selain itu untuk memantapkan kondisi kuda jelang dibawa ke Malaysia kami juga akan mendatangkan dokter dari Portugal. Jadi kami berupaya maksimal mempersiapkan berbagai hal yang dibutuhkan Tim Equestrian Indonesia selama menjalani pelatnas di APM Equestrian Center.


Sementara itu kesempatan yang sama, Ketua Umum PP Pordasi mengemukakan dipilihnya APM Equestrian Center sebagai tempat pelaksanaan TC Tim Equestrian Indonesia ke SEA Games 2017 dikarenakan karakteristiknya sangat mirip dengan arena pertandingan equestrian yang akan digunakan di Malaysia.

"Sebelum kami memutuskan melaksanakan TC pelatnas di APM Equestrian Center kami terlebih dahulu melakukan obervasi. Dan ternyata karakteristik APM Equestrian Center sangat mirip dengan arena yang akan digunakan di Malaysia. Termasuk suhu udaranya. Karena itulah saya meminta tolong kepada Pak Marciano Norman untuk menggunakan fasilitas di sini," papar Eddy Saddak yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Federasi Equestrian Dunia (FEI).

Menurut Eddy, sejak menjalani pelatnas tahap pertama, kemampuan para atlet pelatnas SEA Games terus meningkat. Terbukti dalam ajang Charity Show. "Kita bisa kemajuan mereka. Mereka bisa bikin sembilan kali clear round di kelas 135 cm dan 145 cm padahal ketinggian mistar yang akan digunakan pada SEA Games nanti hanya 130 sampai 135 cm untuk individual dan 120 sampai 125 untuk nomor tim. Malahan kita jadi kesulitan untuk memilih atlet," ujarnya.

"Jadi kami sangat puas dengan fasilitas dan pelayanan yang diberikan oleh APM Equestrian Center," imbuhnya. Berkaca dari progres yang dicapai para atlet pelatnas, Eddy optimis bisa merebut tiga emas pada SEA Games 2017.

Di SEA Games nanti, cabor equestrian akan mempertandingkan tiga disiplin yaitu show jumping (loncat rintang), dressage (tunggang serasi) dan endurance (daya tahan) individual dan beregu.Indonesia hanya akan mengikuti disiplin show jumping dan dressage. Nantinya akan ada delapan atlet yang dibawa ke Malaysia. Jordan


Adi Katompo Berpeluang Tampil di Equestrian Dunia

Minggu, 29 November 2015

INDONESIA memiliki peluang mengirimkan wakilnya di ajang equestrian dunia bertajuk FEI World Jumping Challenge 2015. Kepastian itu didapatkan setelah rider Kuniadi Mustopo menjadi juara di FEI World Jumping Challenge Indonesia 2015.

Kurniadi alias Adi Katompo berhasil mengumpulkan poin tertinggi pada tiga putaran yaitu 35 poin pada kejuaraan yang digelar pada 22 November, 25 November dan pada hari Minggu (29/11) di APM Equestrian center, Tapos, Tigaraksa, Banten. Menggunakan kuda APM Levisto Big Boy, dia sukses menyingkirkan lawan-lawannya.

Di peringkat kedua diraih oleh Raymen Kaunang dengan menggunakan kuda Conquistador dengan 27 poin. Selanjutnya Brayen Brata Coolen dengan kuda Labelle 140 (Aragon Equestrian Sport) di urutan ketiga dengan 26 poin, sementara Joko Susilo dengan kuda Saltador (Pegasus) menempel di posisi keempat dengan 18 poin.

Juri Show Jumping FEI, Titin Irvianti Ibrahim, mengatakan Kurniadi Mustopo akan diboyong ke FEI yang tergabung di Grup 9 dengan beberapa negara yaitu Singapura, India, Filipina dan Thailand. Hasil Kurniadi tersebut akan dilihat apakah lebih baik dari perwakilan negara-negara lain. Jika hasilnya memuaskan, maka Kurniadi tampil mewakili Grup 9 di FEI World Jumping Challenge 2015 di Bulgaria yang waktunya masih belum ditentukan.

"Setelah lima tahun meninggalkan dan tidak melihat equestrian di Indonesia, sekarang saya merasa surprised karena equestrian Indonesia sudah sangat maju dibandingkan beberapa tahun lalu. Dari situ saya optimis peluang Kurniadi lolos ke kejuaraan dunia cukup besar, apalagi persaingan di tiga putaran FEI World Jumping Challenge Indonesia 2015 ini sangat ketat," ujar Titi.

Menurut Titi kunci kesuksesan Kurniadi adalah konsistensinya di tiga putaran. Sebelumnya di putaran pertama, Kurniadi sempat gagal naik podium namun dia bangkit dan menunjukan kualitasnya.

Kesuksesan Kurniadi menjadi wakil Indonesia di FEI World Jumping Challenge kali ini bukanlah pertama kalinya. Tapi sejak FEI World Jumping Challenge mewajibkan setiap national federation. Sayangnya, ketika itu Indonesia tidak mengirimkan wakilnya.

Sebagai catatan, sejauh ini sudah ada empat rider yang pernah mewakili Indonesia di FEI World Jumping Challenge yaitu Resy Radinal, Mario Wowiling, Brayen Brata Coolen, dan Albert Palelau.Menanggapi pencapaiannya kali ini, Kurniadi mengaku sangat senang. Dia menilai hasil ini berkat kerja keras dan tampil konsisten.

"Saya mencoba tampil maksimal. Saya berusaha tidak terlalu mendirfosir kuda saat pemanasan. Dan hasilnya sesuai harapan," ungkap Kurniadi. Pada kesempatan yang sama, rider wanita Nadia Marciano yang juga Presiden of Event FEI World Jumping Challenge Indonesia 2015 mengalami kegagalan.

"Hari ini saya sedang tidak beruntung. Tentu ini akan makin melecut motivasi saya untuk terus berlatih lebih keras lagi agar bisa meraih prestasi lebih baik lagi di kejuaraan-kejuaraan lainnya mendatang," tutur Nadia.

Pada putaran ketiga, untuk kategori open class A (tertinggi) for all, gelar juara diraih Ferry Wahyu Hadianto dengan kuda Equinara Bodius yang mencatat waktu tercepat 59,96 detik tanpa kesalahan. Urutan kedua ditempati rider wanita Putri Hamidjojo dengan kuda General G (Trijaya Equestrian). Kurniadi sendiri membuat waktu 69,01 tanpa kesalahan. Selain open class, di kategori A juga dilombakan dipilh Challenge Class A. Kelas ini dimenangi Yayat Subrata dengan kuda Maestro Blanco (Pegasus), diiikuti Ferry Sudarmadi dengan kuda Greta (Puri Ayu), dan Kurniadi. (Jordan)

Andry Rebut Marciano Cup di CIO 2015

Minggu, 01 November 2015

AJANG Kejuaraan Nasional Equestrian Cinta Indonesia Open (CIO) 2015 kusus di nomor bergengsi Marciano Cup di kelas show jumping (lompat rintangan) 125-130cm terjadi persaingan yang sangat dramatis. Yang berlangsung di APM Equestrian Centre, Tigaraksa, Banten, Minggu (1/11/2015). Bertarung di arena indoor, nama-nama top dibuat harus berjuang ekstra menghadapi tantangan lintasan yang dibawah komando course designer, Rafiq Radinal.

Justru para raider ternama gagal membuktikan diri menjadi yang terbaik, yakni Adi Katompo dengan kuda andalannya APM Nastello, Brayen Brata Coolen dengan kuda Aragons Bo, Danny Rukmana dengan Casiopea. Ketiganya gagal menyelesaikan lomba karena dua kali kudanya gagal melompat, sementara andalan tuan rumah Nadia Marciano hampir membuat clear round, tapi sayang di lintasan terakhir menjatuhkan penghalang.

Akhirnya rider senior Andry Prasetyono dengan kuda Lady Dance (JPEC Sentul) tampil menjadi juara Marciano Cup. Andry membuat catatak waktu tercepat 53,61 detik tanpa kesalahan. Rider senior lainnya, Ferry Wahyu Hadianto dengan kuda Equinara Zandor (Equinara Arthayasa Kaltim) berada di urutan kedua dengan waktu 54,75 detik tanpa kesalahan. Peringkat ketiga ditempati Denis Christian Sanjaya dengan kuda Greta 97 (Arthayasa Stable) dengan capaian 56,41 detik.

Menurut Nadia Marciano bahwa ia sudah mencoba tampil sebaik mungkin dan hampir saja membuat clear round. “Saya sudah berusaha maksimal namun hasilnya tak sesuai dengan harapan. Tapi secara pribadi saya puas dengan hasil ini. Apalagi ini adalah kompetisi pertama kami di arena indoor,” ujar Nadia Marciano yang juga President of Event.

Senada dengan hal itu Adi Katompo yang nota bene adalah langganan juara nasional mengakui kondisi lintasan indoor yang lebih kecil dibandingkan outdoor menjadi kendala yang cukup berarti. Selain itu, rumitnya desain lintasan diakui juga membuat persaingan menjadi lebih sulit. “Lihat saja tadi persaingan cukup ketat, karena memang desain lintasannya sangat ketat dan butuh pertimbangan-pertimbangan matang. Yang pasti dengan adanya arena indoor ini sangat positif untuk meningkatkan kualitas rider dan juga kuda-kuda kita ke depan,” kata Adi.

Sementara itu Rafiq Radinal mengakui desain lintasannya sangat bagus sehingga membuat persaingan sangat menarik. Ia juga memuji kinerja para atlet dan juga kuda-kudanya yang mampu menyelesaikan lomba tanpa kendala. “Kita akui lintasan kali ini cukup menarik karena memang dibuat oleh course designer yang levelnya FEI. Itu bisa dilihat dari persaingan di Marciano Cup tadi. Memang sayang di kelas 140cm pesertanya cuma sedikit, tapi itu tidak lepas dari kondisi cuaca yang panas sehingga banyak rider dan kuda yang kecapekan sehingga memilih tidak tampil di kelas tersebut,” papar Rafiq.

Untuk Kelas 140cm memang cuma diikuti dua rider top nasional Adi Katompo/APM Nastello dan Ferry Wahyu/Equinara Zandor. Melalui dua kali penampilan, Adi Katompo/APM Nastello tampil menjadi juara dengan mencatat dua kali clear round, sementara Ferry Wahyu dalam dua kali penampilannya selalu membuat kesalahan. Cinta Indonesia Open 2015 berlangsung selama tiga hari sejak Jumat, 30 Oktober. Sebanyak 175 rider tampil di 24 kelas kejuaraan. Jumlah tergolong terbesar di gelaran kejuaraan equestrian di Indonesia. Menurut Nadia untuk tahun berikutnya tetap akan melaksanakan di areana indoor. (Jordan)

CIO 2015 Diikuti Rider Terbaik Seluruh Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2015

EVENT yang paling bergengsi kusus untuk Equstrian di tanaha air kembali digelar. Yakni kejuaraan bergengsi equestrian Cinta Indonesia Open (CIO) 2015 kali ini bakal lebih meriah. Pasalnya rider-rider terbaik di tanah air akan tumpah ruah di kejuaraan yang digelar APM Equestrian Center, Tigaraksa, Serang, Banten, 30 Oktober – 1 November 2015. Selain kelas-kelas bergengsi, CIO 2015 juga akan melombakan kejuaraan interschool atau antarsekolah.

Hal itu disampaikan Presiden of Event CIO Nadia Marciano. Ia mengatakan event ini merupakan kompetisi berkuda tingkat nasional dengan bertaraf internasional, karena jurinya berasal dari berbagai negara. Tujuan dari kejuaraan berkuda ini untuk mempersiapkan atlet-atlet berbakat di Indonesia, di samping mengasah para atlet-atlet papan atas Indonesia sebagai persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jabar.

“Event kali ini pasti lebih meriah. Sebab selain kelas-kelas utama juga akan kelas khusus yang melibatkan sekolah-sekolah, membawa nama sekolah, bukan klub. Ini bagian dari keseriusan kami untuk mengembangkan olahraga equestrian sejak usia sekolah. Dan ini bukan yang pertama, tapi kelanjutan dari komitmen kami setiap menggelar CIO,” ujar putri mantan Kepala BIN Marciano Norman kepada wartawan di Hotel Borobudur Jakarta, Jumat (23/10/2015).

CIO 2015 akan mempertandingkan 24 nomor dari kelas Show Jumping (lompat rintangan) dan Dressage (tunggang serasi) “Ada 8 kelas memiliki kesinambungan dengan nomor di PON dan 4 kelas di jumping dan 4 kelas di dressage,” jelas Nadia yang juga masih aktir menunggang kuda ini.

Untuk kelas-kelas bergengsi, rider-rider top Indonesia yang dipastikan tampil antara lain Adi Katompo, Asep Lesmana, Jendry Palendeng, Nadia Marciano (APM Equestrian Center), Brayen Brata Coolen (Aragon), Raymen Kaunang (Pegasus), Yan Yan Hadiansyah, Ferry Sutoyo (Equinara), dan beberapa rider top lainnya.

Kesempatan sama Ketua Bidang Organisasi KONI, Sudirman, memberi dukungan pada kejuaraan ini. KONI disebutnya bakal membantu dengan meminjamkan kandang kuda. Sebelumnya, CIO ini baru memiliki 80 kandang dari 120 kandang yang ditargetkan.
“Kami sangat mendukung kejuaraan ini. KONI sangat terbuka, karena itu kami akan membantu APM untuk meminjamkan kandang kuda. Event ini sangat bagus untuk pembinaan atlet usia muda,” kata Sudirman, mantan atlet karate ini.

CIO 2015 ini adalah kejuaraan tahunan yang selalu digelar oleh APM Equestrian Center. Triwatty Marciano selaku pembina APM Equestrian Center menegaskan bahwa terlaksananya kejuaraan ini adalah bagian komitmen pihaknya dalam membangun olahraga equestrian di Indonesia. Untuk itu, Triwatty berharap, seluruh atlet terbaik Indonesia bisa tampil tanpa embel-embel perbedaan dan perseteruan yang menimpa organisasi equestrian saat ini. (Jordan)

Dua Raider APM Berjaya di Kelas Bergengsi

Senin, 27 April 2015

DUA rider nasional, Adi Katompo dan Jendri Palandeng tampil gemilang dengan menjuarai kelas bergengsi pada hari terakhir Kejuaraan Ketangkasan Berkuda (Equestrian), APM Charity Show, Minggu, (26/4) di APM Equestrian Center Tigaraksa, Tangerang, Banten. Adi sukses menjuarai kelas paling bergengsi show jumping atau lompat rintangan 140cm, sedangkan Jendri memenangi kelas SJ 130cm. Sukses kedua rider kawakan ini melambungkan nama APM.

Persaingan di kelas SJ 140cm sangat menarik. Dari puluhan peserta yang tampil, akhirnya hanya dua rider yang mampu mencatatkan clear round alias tanpa membuat kesalahan di putaran pertama dan lolos ke babak jump off. Adi Katompo yang menjadi andalan tuan rumah, sukses meraih dua tempat dengan kuda berbeda yaitu dengan APM Nastelo dan APM Levisto Big Boy, sementara satu tempat lainnya diraih pesaing utamanya, Ferry Sutoyo dengan kuda Equinara Budois (Equinara Arthayasa).

Pada babak jump off, Adi/APM Nastelo turun pertama. Pada kesempatan ini, Adi/APM Nastelo kembali membuat clear round dengan waktu 45,45 detik. Disusul kemudian, Ferry Sutoyo/Bodius. Sayang pada kesempatan kedua ini, Ferry gagal membuat clear round dengan membuat waktu 43,26 detik dengan 8 angka kesalahan. Adi yang sudah memastikan menjadi juara, tampil tidak ngotot saat tampil ketiga dengan APM Levisto. Hasilnya, Adi mundur setelah dua kali lompatannya menjatuhkan rintangan. Dengan demikian, Adi/APM Nastelo menjadi juara, diikuti Ferry/Bodius, dan Adi/APM Levisto.

Keberhasilan Adi di kelas 140 cm itu berkat strategi jitu rider berdarah Manado ini yang melepas persaingan kelas SJ 130cm. Padahal Adi/APM Nastelo adalah salah satu pasangan yang sukses ke babak jump off bersama, selain Jendri Palendeng/APM Wadecki, Putri Hamidjojo/Fabien, dan Adi Katompo lagi dengan kuda APM Curd.

Pada persaingan jump off kelas SJ 130cm ini, Adi/APM Curd tampil lebih dulu dan mencatat clear round dengan waktu 50,75 detik. Di kesempatan kedua, Putri Hamidjojo/Fabien gagal membuat clear round dengan waktu 42,49 dengan 4 angka kesalahan. Mahkota juara kelas ini akhirnya diraih Jendri/APM Wadecki yang membuat clear round dengan waktu 46,85 detik. Adi Katompo/APM Curd menjadi runner up, dan Putri Hamidjojo/Fabien peringkat ketiga. (Jordan)

APM Equestrian Centre Raih Sukses Ganda

SEBAGAI pelaksana dan tuan rumah APM Equestrian Centre meraih sukses ganda pada APM Charity Show 2015 ini. Selain sukses menjadi penyelenggara, APM juga menempatkan beberapa rider dan kudanya di persiangan kelas-kelas bergengsi. Presiden of Event APM Charity Show Nadia Marciano mengaku pihaknya harus jatuh bangun untuk menyukseskan gelaran ini. Hal itu tidak lepas dengan status ganda menjadi panitia dan peserta.

“Berat juga harus tugas ganda. Tapi kerja keras kami terbayar lunas. Meski APM gagal mendominasi kejuaraan seperti yang dilakukan saat Jabar Open lalu, tapi hasil yang kami raih di APM Classic ini sudah cukup membanggakan. Hanya memang kurang beruntung di beberapa kelas kejuaraan,” tutur Nadia.

Hal senada diungkapkan Event Director Adi Katompo. Rider yang biasanya turun di kelas-kelas tinggi ini, mengaku persiapan untuk kejuaraan ini sudah sangat baik. Namun ia mengaku ada beberapa hal yang perlu disempurnakan lagi. “Persiapan cukup matang. Untuk hasil di APM Charity ini sudah cukup baik, tapi memang belum maksimal,” imbuh Adi.

Sementara itu Rider berbakat Brayen Brata Coolen sukses memenangi kelas show jumping (SJ) 115cm open pada hari terakhir kejuaraan equestrian APM Charity Show di APM Equestrian Centre, Tigaraksa, Tangerang, Minggu (26/4). Turun dengan kuda Aragon Bo’s (Aragon Stable), Brayen berhasil menyingkirkan para rivalnya seperti Yan Yan Hadiansyah, Jendri Palandeng, Danny Rukmana, dan Reswara Radinal.

Brayen yang turun ke arena urutan kedua setelah Alla Radinal, berhasil menaklukkan rintangan dengan waktu terbaik 55,01 detik tanpa kesalahan. Hasil itu menambah catatan kemenangan Brayen setelah sebelumnya ia juga berhasil naik podium juara.

Di posisi kedua ditempati Alla Radinal yang turun dengan kuda Denver TS (Arthayasa Stable). Istri pemilik Arthayasa Stable, Rafiq Radinal ini membuat catatan waktu 66,50 detik dengan 2 angka kesalahan. Yan Yan Hadiansyah yang kini membawa bendera Equinara Arthayasa setelah pindah dari JN Stud, harus puas di peringkat ketiga dengan menunggangi kuda Equinara Granadine. (Jordan)


Marissa Sukismita Pecundangi Raider Cowok

LUAR biasa, sebab sangat jarang terjadi, jika seorang rider cewek sukses mempecundangi para rider cowok. Adalah Marissa Sukismita yang mampu melakukan itu, sehingga ia memenangi kelas show jumping (SJ) 105cm open pada hari ketiga kejuaraan ketangkasan berkuda (equestrian) APM Charity Show di APM Equestrian Center, Tigaraksa, Tangerang, Minggu (26/4). Tampil dengan kuda Fabien, Marissa yang terbilang masih baru, mencatat waktu mengalahkan beberapa rider unggulan cowok seperti Raymen Kaunan, Albert Palealu, Andri Sutoyo, dan Anto Budianto.

Marissa mengaku terkejut sekaligus gembira. “Jujur saja ini sangat mengejutkan. Sebab, dari awal saya tidak menyangka bakal meraih kemenangan. Bisa mengalahkan senior saya seperti Albert Pelealu, Adi Katompo, dan guru saya Putri Hamidjoyo sangat senang,” ujar Marissa.
Kemenangan yang diraihi ini berkat petuah dari sang guru Putri Hamidjoyo. “Pokoknya kamu main santai saja, dan fokus ke pertandingan. Jangan pikirkan lawan yang kamu hadapi. Begitu pesan Putri kepada saya,” ungkap single dengan usia 25 tahun.

Posisi kedua kelas 105cm open ini ditempati Albert Palealu (Universitas Budi Luhur). Albert membuat catatan waktu 62,37 tanpa kesalahan. Diikuti peringkat ketiga, rider dari Provinsi Riau, Ferry Agustian yang turun dengan kuda Jocker Budi Luhur, sedangkan Valentino Lumentah dengan kuda Mitra Ragapat (Pulomas Equestrian) di posisi keempat.
Pada kelas young horse, Agung Riyanto dari Pamulang Equestrian berjaya dengan menjadi yang terbaik. Turun dengan kuda Countess, Agung membuat catatan waktu 57,81 detik tanpa kesalahan. Marco Wowiling (UBL) di urutan kedua, sementara rider cewek Putri Hamidjojo dengan kuda Favorita dari Trijaya Equestrian di posisi ketiga.

Sebelumnya di kelas 80cm open, gelar juara juga diraih rider muka baru. Ersan Ramadhan dengan kuda Flying Beuaty (Aragon Unit Berkuda Universita Gadjah Mada) meraih gelar juara dengan mencatat waktu 25,73cm dengan 2 kesalahan. Yayat Subrata dengan kuda Princess Ivanka (Pegasus) di urutan kedua, diiuti Raymen Kaunang (Genesis/Dwima Turangga), dan Ferdian Ramadhan (Mahajana/Aragon).

Sementara untuk kagetori 80cm junior, lagi-laga rider muka baru yang berjaya. Adalah Natasya Heriawan dengan kuda November (JPEC Sentul) yang tampil terbaik, mengungguli rider tuan rumah Raka Armikaf dengan kuda APM Nikita, diikuti Daniel Wiseso Prawiro (Pegasus). (Jordan)

Apresiasi dari APM Charity Show

BENTUK kepedulian sekaligus apresiasi kepada mereka yang telah berjasa mengembangkan sekaligus membina olahraga berkuda di tanah air, APM Equestrian Center menggelar lomba sembari beramal. Khusus APM Charity Show yang berlangsung selama tiga hari (24-26 April) 2015 di APM Equestrian Center, Tigaraksa Kabupaten Tangerang, Banten ini adalah event pertama dari APM Equestrian Center.

Sebelum ini, APM Equestrian Center memiliki dua event, yakni APM Classic dan Kejuaraan Cinta Indonesia Open. APM Classic biasanya digelar bulan April, sedangkan ‘CIO’ antara Oktober atau November. Gelaran APM Charity Show digagas oleh Nadia Marciano, selaku Dirut APM Equestrian Center.

Oleh karenanya, APM Charity Show dilangsungkan dengam tema ‘Horses Heal People’, yang secara harfiah berarti ‘Kuda Menolong Manusia’. Maka, sesuai dengan tema yang diusung, seluruh pemasukan dari pendaftaran atau entry-fee disumbangkan kepada elemen berkuda.
Nadia Marciano, yang merupakan President Event dari APM Charity Show ini, dalam jumpa pers di APM Equestrian Center, Minggu, (28/4) siang menhelaskan pemasukan dari entries atau pendaftar adalah sebesar Rp 85 juta. Semua dana yang terkumpul itu disumbangkan kepada sejumlah pengabdi dari olahraga berkuda.

Pemberian penghargaan dan bantuan bagi orang-orang yang telah memberikan pengabdiannya secara penuh di bidang equestrian tersebut diserahkan Minggu (26/4) siang di club-house APM Equestrian Center, Tigaraksa, Tangerang. Selain dari APM Equestrian Cente,r para komunitas berkuda juga memberikan bantuan dengan harapan ada ikatan emosional dengan sesama insan berkuda Indonesia.

Penyerahan secara simbolis disampaikan oleh Nadia Marciano yang didampingi Adi Katompo selaku Direktur Event APM Charity Show. Penerima penghargaan dan bantuan diantaranya adalah Unit Berkuda UGM, serta Johnny Kramer, dan Karom (Pulomas).
Penerima bantuan dari gelaran APM Charity Show lainnya adalah panitia penyelenggara Help Our Delman, IPB, Opa Kres, Welly Mawengkang, Leo, Kusuk (Parongpong), Ara Suhara (joki Aragon yang diamputasi), Sumarna (Kavaleri, stroke), Kerney Momuat (pelatih Manado, katarak), Agus Daldiyo (Pekata, stroke), Santoso (Kavaleri, stroke).

Pembina APM Equestrian Center, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman dan Ketua Umum PP.Pordasi Eddy Saddak juga hadir dalam acara tersebut. Sebagian dari penerima penghargaan dan bantuan berfoto dengan Nadia, Adi Katompo, serta dua pembina utama APM Equestrian Center Marciano Norman dan Triwatty Marciano, dan ibu Henny Olga Pondaag, istri almarhum AE Kawilarang, salah seorang sesepuh berkuda dan pembina equestrian. (Jordan)

Equinara Horse Sports Siap Gelar Piala Menpora

Rabu, 08 April 2015

SETELAH absen selama dua tahun, yakni pada 2013 dan 2014. Kembali ajang Menpora Cup digelar. Adalah Klub berkuda equestrian (tunggang serasi) Equinara Horse Sports yang bakal menggelar kompetisi berkuda Piala Menpora untuk yang kedua kalinya pada September 2015. Demikian ditegaskan pembina Equinara Horse Sports, Adinda Yuanita usai menghadapa Menpora Imam Nahrawi di kantor Kemenpora, Jakarta, Rabu (8/4/2015).

"Kami terus bergerak secara profesional, Dimana Equinara terus mengembangkan kemampuan atlet berkuda binaannya baik penunggang maupun kuda dengan berbagai pelatihan dan kompetisi demi membawa harum nama bangsa di kancah internasional," kata Adinda Yuanita.

Adinda menambahkan bahwa selama ini Equinara dikenal sebagai klub berkuda yang memiliki prestasi membanggakan. "Dimana pada SEA Games 2011, kuda milik Equinara, Zandor, dan penunggangnya, Ferry Wahyu Hadiyanto sukses merebut satu emas dan satu perunggu di nomor lompat rintangan," tegasnya.

Lalu, pada tahun berikutnya, kata Yuanita, Ferry Wahyu kembali memenangkan South East Asia League World Cup Show Jumping Qualifiers yang dilangsungkan bersamaan dengan Piala Menpora 2012. "Pada Piala Menpora 2012 pertandingan yang digelar Equinara bersamaan dengan dilakukannya pemberian beasiswa dana pembinaan untuk atlet berprestasi yang dinamakan Equinara Awards," jelasnya.

Selanjutnya, kata Adinda, Ferry Wahyu kembali memenangi emas SEA Games Myanmar 2013 di nomor dressage beregu ditambah perunggu individu. "Tak hanya sampai di situ, dia secara konsisten menjadi bagian dari tim berkuda untuk Asian Games 2014 di Incheon dan SEA Games 2015 di Singapura. Untuk itu, rencananya usai SEA Games 2015 Singapura, Ferry akan kami kirim mengikuti berbagai kejuaraan di Jerman," tegas wanita mantan rider ini.

Sementara itu Ferry menyatakan siap meraih emas di SEA Games 2015 mendatang. “Saya berharap di Singapura nanti kembali dapat medali emas. Sehingga akan melengkapi medali emas sebelumnya di SG 2011 dan SG 2013,”kata Ferry penuh opimis. Jika ini terjadi maka Ferry akan menjadi Rider pertama Indonesia yang membuat Hattrik di ajang SEA Games. (Jordan)

5 Gelar Terbagi Rata di AE Kawilarang Memorial

Minggu, 14 Desember 2014

LIMA nomor kelas lompat rintangan (show jumping) yang diperlombakan di Gelaran AE Kawilarang Memorial terbagi rata. Para raider nasional masih mendominasi even ini. Namun mereka mendapat tantangan dan perlawanan dari raider lainnya.

Hal itu terjadi di hari terakhir pada Minggu (14/12/12) persaingan dari kejuaraan equestrian yang dihelat di Arthayasa Stable di Desa Limo, Cinere, Jaksel itu itu. Persaingan mulai terjadi di hari pertama Sabtu (13/12), dari lima nomor atau kelas yang dilombakan perolehan gelar terbagi rata untuk lima penunggang tangguh dari lima klub berbeda.

Di kelas 70-90 cm, gelar juara direbut rider senior dari Pegasus, Yayat Subrata, yang mengungguli Raymen Kaunang, rekan setimnya di Pegasus tapi tampil dengan bendera Dwima Turangga. Sementara di kelas 100 cm, Marco Momuat tampil menawan untuk merebut gelar. Dia turun dengan 'Kembang Kinamang' dengan sponsor Arrowhead-Aragon.

Untuk kelas ketiga yang dilombakan, yakni 135 cm, yang menjadi nomor seleksi nasional (seleknas) untuk pembentukan tim ke SEA Games XVII/2015, Singapura. Adalah Brayen Brata Coolen mempersembahkan gelar untuk Aragon. Brayen membesut 'Grace 292', mengungguli rider kawakan Adi Katompo yang turun dengan APM Nastello.

Di kelas 110 cm, Raymen Kaunang dengan 'Maestro Blanco' tampil gemilang untuk menyumbang gelar bagi klubnya, Pegasus. Di kelas 120 cm Rosad Natsir menjadi yang terbaik dengan catatan waktu yang lebih baik dari kompetitor lainnya. Sukses Rosad Natsir memenangi kelas 120 membuktikan konsistensinya.

Bagi Rosad ini adalah sukses kedua, sebelumnya ia juga sukses di Kejuaraan 'Cinta Indonesia Open/CIO' di APM Boarding School, Tigaraksa, awal November lalu. Rosad di 'CIO' tercatat menyumbang tiga medali untuk klubnya, Anantya. (Jordan)

Ferrya Tampil Luar Biasa

Kamis, 11 Desember 2014

FERRY Wahyu Hadiyanto memang tampil sangat luar biasa pada pentas kualifikasi ke-2 show jumping (loncat rintang) SEA Games 2015 yang digelar di JPEC Sentul, Jabar, 6-7 Desember.Dan berhasil naik podium diposisi nomor satu, artinya dia yang terbaik.
Dari dua kompetisi yang dilaksanakn hari pertama, Sabtu, 6 Desember dan Minggu, 7 Desember, Ferry yang menunggang kuda Equinara Bodius, membukukan hasil yang sempurna dengan mencatat clear round alias tanpa angka kesalahan dengan total waktu 162,90 detik. Hasil yang direngkuh, Ferry lebih baik dari peringkat kedua yakni Alvaro Menayang.

Namun naas bagi Ferry, pemandangan yang sangat pilu terjadi saat upacar a pengalungan medali di podium Ferry secara mendadak pingsan.Tak pelak membuat ia harus segera dilarikan ke Rumah Sakit yang terdekat.

Kejadian itu memjadi pelajaran berharga bagi para raider ke depannya. Demikian halnya juga EFI selaku lembaga yang menggelar event, agar untuk kedepannya mempersiapkan tim medis untu memeiksa atlet yang bakal tampil, Ar tinya dilakukan tes medis, apakah si atlet benar-benar siap tampil.

Menurut Sekjen EFI Prasetyana Sumis¬kum alias Tion, sepertinya kondisi Ferry mengalami cedera tangan kanan hingga ke otak, karena mengalami kekelahan ia jatuh pingsan. “Kalau saya perhatikan seperti itu. Sebab, beberapa pekan sebelumnya, Ferry sempat main di PORDA Jabar di Parongpong, Lembang, Jabar,” ujar Tion.

Kini, kondisi Ferry, sebagaimana informasi yang disampaikan Sekjen EFI Prasetyana Sumiskum alias Tion, sudah agak membaik dan sedang dirawat di Cimande. “Di sana Ferry ditangani tukang urut yang terkenal. Padahal, dokter sudah menyarankan agar operasi saja, tapi yang bersangkutan tidak mau. Kalau mau sembuh yang memang harus dioperasi,” jelas Tion.

Hal yang sama dinyatakan rekan Ferry yakni Pingkan Motira, rider yang menduduki peringkat ketiga ini menuturkan, pada hari pertama rekannya sesame tim nasional cabang equestrian tidak terlihat seperti kelelahan atau mengalami cedera di tangannya. Buktinya, kata Pingkan, Ferry mampu menyelesaikan kompetisi pertama dan kedua dengan sempurna.

“Luar biasa, Ferry mampu mencatat double clear round di kualifikasi ke-2 SEA Games 2015 ini. Dengan hasil ini ia tampil sebagai juara. Bahkan, prestasi ini mengulang prestasi pada kualifikasi pertama sebelumnya di JPEC Sentul ini juga. Ferry memang bagus. Tapi, sayang dia cedera. Kalau tidak salah cedera itu sudah dialami pada PORDA Jabar di Parongpong bulan lalu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” harap Pingkan.

Penampilan Ferry memang luar biasa, ia yang menunggangi kuda Zinnie ini di kompetisi melakukan satu kesalahan atau mendapat 4 faults. Tapi, ia sukses di kompetisi kedua dengan menutup clear round, bahkan waktunya lebih baik dari Ferry yakni 151,40 detik. Posisi ketiga ditempati Pingkan dan sekali melakukan kesalahan (4 faults). Dengan hasil ini, maka Ferry berhak jadi juara, Alvaro kedua, dan Pingkan ketiga. (Jordan)

.

Satlak Prima & KONI Hanya Akui EFI

ADANYA dua lembaga equestrian di Indonesia yakni Equestrian Fede¬ration of Indonesia (EFI) dan Equestrian Indonesia (Eqina) serta komunitas equestrian. Membuat pola pembinaan terpecah. Masing-masing lembaga berjalan sendiri-sendiri. Namun siapa lembaga sebenarnya yang berhak untuk menggelar event di tanah air dan secara resmi jelas hanya EFI. Sebab selain EFI satu-satunya lembaga yang diakui Federasi Equestriaan Internasioanl (FEI). Dan lembaga ini juga menjadi anggota KONI Pusat.

Berkaitan hal itu Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Sat¬lak Prima) Suwarno menegaskan untuk menghindari berlarut¬nya persoalan ini, Satlak Prima tegas hanya mengakui EFI selaku federasi resmi yang merupakan anggota Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI). Penegasan tersebut disampaikan Ketua Satlak Prima Soewarno kepada wartawan usai menyaksikan langsung kualifikasi ke-2 SEA Games 2015 cabang equestrian di JPEC Sentul, Jawa Barat, Minggu (7/12/2014) yang digelar EFI di mana hanya diikuti enam rider.

Dengan begitu yang memi¬liki legalitas, kewenangan, dan otoritas membentuk dan mempersiapkan tim equestrian Indonesia ke SEA Games 2015 di Singapura, adalah EFI yang juga diakui federasi euquestrian internasional (FEI). Sikap tersebut, kata Soewarno dilandasi pada Peraturan Pemerintah (PP) No 22 Tahun 2010 tentang Prima.

“Tentu saja sebagai federasi resmi yang berhak menyiapkan tim adalah EFI. Kami berpe¬gang pada PP No 22 Tahun 2010 yang menyebutkan bah¬wa Dewan Pelaksana Prima memiliki kewenangan dalam menyeleksi atlet dan me¬netapkan pelatih andalan nasional di luar yang dibentuk induk cabang olahraga atau PB/PP. Namun langkah ini hanya boleh dilakukan dalam situasi khusus. Itupun dalam klausul dinyatakan tetap harus berkoor¬dinasi dengan PB," kata Suwarno.

Suwarno menambahkan persiapan atlet atau timnas ke multievent internasional, SEA Games harus melibatkan pemerintah, KONI Pusat, Satlak Prima. Itu dijelaskan dalam Perpres Nomor 22 Tahun 2010. Satlak Prima punya kewajiban lakukan pengujian kepada atlet yang mewakili nama Indonesia di tingkat internasional.

Jelas dalam hal ini payung hukumnya sudah ada. Sehingga siapaun tidak bisa seenaknya mengganti atlet dan manajer. Semuanya harus berkoordinasi dengn induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan. Misalnya di cabang equestrian kalau ada yang hendak ikut kualifikasi harus berkoordinasi dengan EFI,” ujar mantan Pangdam Diponegoro Jawa Tengah ini.
“Saya berharap kejadian penggantian menejer equestrian Indonesia saat menghadapi Asian Games Incheon lalu tak terulang,” tegas Suwarno. Saat itu posisi Prasetyana Sumiskum diganti oleh M Asyik tanpa ada pemberitahuan awal. Surat keputusan pun dibuat dadakan tanpa ada pernyataan yang jelas oleh pihak Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Penggantian posisi Prasetyana tanpa pernyataan yang jelas. Peristiwa ini mengagetkan semua pihak dan menimbulkan pertanyaan besar.

Pernyataan Suwarno itu ditanggapi Sekjen PB EFI Prasetyana Sumiskum bahwa siapapun berhak mengikuti kualifikasi SEA Games XXVIII 2015 Singapura. Tentu dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku, kata Tion, sapaan Prasetyana Sumiskum. “Kita sudah menggelar dua kali penyisihan, masih tersisa tiga kali lagi dari lima kali rencana yang kita gelar. Masih ada kesempatan bagi mereka yang ingin ikut kualifikasi,” urai Tion.

Hingga kini belum ada satu pun rider yang sudah pasti lolos. “Namun kerangka Timnas sudah ada bayangan, mereka yang bakal berangkat ke SEA Games 2015 Singapura, kendati masih menyisakan tiga seleksi lagi. Kami masih memberikan kesempatan kepada para raider lainnya untuk mengikuti sisa lainnya,” tegas kakak ipar Rebecca Tumewu ini. (Jordan)

Rosad Raih Gelar Marciano Norman’s Cup

Selasa, 04 November 2014

DILUAR dugaan Rider Rosad Natsir tampil menjadi yang terbaik di nomor paling bergengsi di pentas Kejuaraan Equestrian Cinta Indonesia Open (CIO) 2014 yang digelar di APM Equestrian Centre, Tigaraksa, Tangerang, Minggu (2/11/2014). Pelajar SMA I Negeri Cibinong ini sukses menyambar gelar Marciano Norman’s Cup di kelas Show Jumping (SJ) 100-110cm.
Rosad, pria yang sudah 4,5 tahun ini menggeluti olahraga berkuda ini mampu menyingkir 38 rider lainnya. Dengan raihan waktu tercepat tanpa membuat kesalahan Rosad mampu mengemas waktu 29,12 detik. Peringkat kedua Brayen Brata Coolen, menunggangi kuda Mahaja, dengan koleksi waktu 31,37, disusul Jojo Jonathan dengan kuda Red Star hanya mampu membukukan waktu 32.65 detik.
“Hasil ini diluar dugaan saya, saya tidak menyangka mampu meraih gelar juara Marciano Norman’s Cup. Bayangkan, lawan-lawan yang saya hadapi semua senior saya, seperti Ferry Wahyu Hadiyanto, Pingkan Motira, Marco Mumuat, Jojo Jonathan, Raymen Kaunang, Jendry Palandeng, Erwin M. Yoga, dan beberapa rider lainnya seperti Braye Brata Coolen,” ungkap Rosad yang belajar berkuda dari sang kakak yang juga bertindak selaku pelatihnya Rahmat Natsir.
Bagi Rosad hasil ini merupakan awal dara karirnya, Cinta Indonesia Open 2014, belumlah puncak dari dari cita-cita yang sedang diapungkan juara enam FEI Dressage Challenge tahun lalu itu, yang awalnya menyukai olahraga futsal ini, yakni menjadi atlet nasional di masa mendatang.
“Saya masih harus bekerja keras untuk meraih prestasi lagi. Kepuasan atas hasil kerja keras dengan meraih gelar hari ini, menurut saya belumlah seberapa kalau saya belum masuk menjadi atlet nasional. Itu cita-cita saya sejak dulu. Mudah-mudahan ke depan prestasi saya bisa lebih baik lagi. Untuk itu ke depan saya harus giat lagi berlatih dan terus berlatih,” harap Rosad.
Hasil ini, maka secara keseluruhan membawa empat gelar, yakni dua emas, satu perak, dan satu perunggu di kategori open dan interschool. Sebelumnya, di kelas SJ 90-100 cm Interschool, anak dari alm. Eddy Subandi/Almrh. Aning Sutarsih ini meraih perak di belakang Anjasmara Wibisono asal SMA Negeri 70 Jakarta. Atau di depan Rahmat Saleh dari Aragon Horse Racing & Equestrian Sport.
Raider kawakan Ferry Wahyu Hadiyanto dan Jojo Jonathan mengakui kehebatan Rosas. Menurut Ferry, Rosad bakal menjadi rider tangguh di masa depan. “Rosad memacu kudanya sangat bagus dan membukukan nilai yang sempurna tanpa melakukan kesalahan sekalipun. Selain itu, kuda yang ditungganginya, Taprika cukup baik dan tangguh,” jelas Ferry.
Sementara itu PLT Gubernur Banten H Rano Karno yang menyaksikan langsung kejuaraan berkuda Cinta Indonesia Open (CIO) 2014 di APM Equestrian Centre, Tigaraksa, Tangerang, Banten, Minggu (2/11/2014). Pria yang beberapa kali berpasangan dengan Yessy Gusman ini terkagum-kagum dengan event yang digelar keluarga Kepala BIN Letjen (purn) Marciano Norman ini. Merasa sngat kagum akan prestasi pelajar-pelajar yang masih mud a itu.
Ia berharap, keberadaan APM Equestrian Centre ini bisa menjadi pioner bagi Banten untuk merebut medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat. “Saya baru kali ini datang ke sini (APM). Sungguh saya terkejut ternyata Banten memiliki fasilitas berkuda yang sangat lengkap dan berstandar internasional. Sungguh saya bangga dengan keberadaan APM ini,” ungkap Rano Karno.
Rano yang didampingi Pembina APM Letjen TNI (purn) Marciano Norman, Ketua Yayasan APM Triwatty Marciano, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman dan Ketua Satlak Prima Mayjen (TNI) Suwarno, Minggu (2/11/2014), menambahkan, karena kesibukannya sebagai Plt Gubernur Banten, jadi baru kali ini dating menyaksikan pertandingan. “Kalau Pak Bupati sudah sering ke sini, kalau saya baru kali ini,” ujarnya sambil tertawa lepas.
Ke depan, Rano siap mendukung keberadaan dan upaya APM untuk mencetak atlet-atlet berkuda yang andal di masa mendatang. Apalagi Banten akan segera menyiapkan atlet untuk persiapan PON 2016 di Jawa Barat. “Dengan adanya APM ini saya jadi optimis, Banten bisa meraih emas di PON 2016 nanti,” harap pria pemeran Si Doel Anak Betawi alias Tukang Insiyur ini.
“Sekarang fasilitas sudah ada. Tinggal bagaimana kita bisa memaksimalkan fasilitas ini sebagai salah satu cabang olahraga andalan Banten di masa mendatang, dan juga buat kemajuan olahraga berkuda di Indonesia. Kita jadikan olahraga berkuda sebagai olahraga andalan Banten di masa mendatang,” tegas Rano. (Jordan)

EFI Sukses Gelar World Dressage Challenge Seri III

EVEN kejuraan tunggang serasi 2014 FEI World Dressage Challenge yang digelar oleh Equstrian Federasi Indonesia (EFI) Sabtu (1/11/2014) di klub Berkuda JPEC, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Ini merupakan seri III dari Kalender Federasi Equistrian Internasional (FEI)telah ser. Se I I berlangsung di India dan Seri II di Thailand. Seri berikutnya akan diadakan di Singapura dan Malaysia.

Dalam hal ini Indonesia masuk dalam zona 8 bersama India, Thailand, Filipina, Singapura, Mongolia dan Bangladesh. Setiap atlet dari setiap negara peserta bertanding di negara masing-masing. Hanya juri yang berkeliling menyambangi satu persatu negara peserta. Demikian ditegaskan Event Direktur Asteria Danimangi kepada wartawan usai pertandingan.

“Ini adalah salah satu ajang seleksi bagi pembentukan Timnas berkuda di ajang Sea Games 2015 Singapura. Satlak Prima telah melakukan kebijakan bahwa dipastikan semua atlet yang turun di pentas Asian Games bakal turun di SEA Games 2015 mendatng,” kata Nina sapaan akrab dari Asteria. Masih menurut Nina bahwa untuk raider show jumping kita tidak punya. Sehingga EFI diwajibkan untuk menggelar turnamen guna menyeleksi atletnya.

Sementara itu menurut Sekjen EFI Prasetyono Sumiskun, FEI melakukan kebijakan bahwa dalam kejuaraan ini juri yang berkeliling ke setiap negara, turnamennya digelar di negara masing-masing. Nantinya hasil pertandingan dari setiap negara akan dikumpulkan dan pemenangnya dipilih dari total poin terbanyak. Hari ini adalah jadwal juri datang ke Indonesia. Ada dua juri yang bertugas disini masing-masing Fredy Leyman dari Belgia dan Carlos lopes dari Portugal. Mereka ditugaskan oleh federasi berkuda dunia.

“Kejuaraan EFI World Dressage Challenge merupakan ajang yang sangat penting untuk pembinaan berkuda tanah air. Para atlet yang berlaga juga merupakan atlet pelapis yang bernaung di bawah klub berkuda seperti klub berkuda, JPEC Sentul, Gading Equesterian, Hambalang dan Warganegara,” kata pria yang akrab disapa Tion itu.

Adapun para raider yang tampil adalah para atlet nasional di antaranya Mia Arsyad, Mugianto, Nunu Nurjaman, Alfaro Menayang, Eddi Suryadi, Adhita Indra Wardhani, Jamal Mewengkang, Agus Solehudin, dan Mira Warganegara.

Raider andalan Indonesia Alvaro Menayang, yang menunggangi kuda Kelecyn Chessa Peak, tampil sebagai terbaik dengan membukukan point tertinggi 517, 00 atau rata-rata 64,63%, di mana juri C Freddy Leyman asal Belgia memberikan 254,00 poin, sementara juri Ean Carlos Lopez asal Portugal memberikan 263,00 poin. “Pertandingan harii lebih enjoy, saya sangat menikmatinya. Memang berbeda diajang show jumping dibandingan di nomor dressage. Terutama dari segi tingkat kesulitannya. Saya senang menjadi terbaik ,” kata Alvaro kepada Olahragaonline.com. (Jordan)

CIO 2014 Diikuti Raider Terbaik Nasional

Kamis, 23 Oktober 2014

EVEN besar Cinta Indonesia Open 2014 kali gaungnya lebih menarik dan meriah. Pasalnya akan diikuti sebanyak 211 penunggang kuda dengan 91 kuda dari 19 klub akan bertraung pada lomba berkuda tingkat nasional ini pada 31 Oktober hingga 2 November di Tiga, Tangerang, Banten.
Hal itu disampaikan President of the Event CIO 2014 Triwatty Marciano kepada wartawan di Hotel Borobudur, Rabu (22/10/2014). "Mereka akan berlaga di nomor show jumping dan dressage, dan mudah-mudahan semua pertandingan berjalan lancar," ujar istri Kepala BIN ini.
Mantan Sekjen EFI ini, berharap para pemilik stebel yang belum mendaftar untuk segera mendaftarkan diri. "Kepada yang belum, agar segera mendaftarkan diri. Selain itu, kami juga sampai sekarang ini kekurangan kandang kuda. Dan, kami telah menyurati PB EFI. Mereka malah membalas, bahwa mereka sendiri akan menggelar event terkait dengan penyisihan SEA Games 2015," jelas Watty.

CIO adalah kejuaraan olahraga berkuda yang diselenggarakan atas kolaborasi SMA Adria Pratama Mulya bersama APM Promo dan APM Equestrian Centre. "Ini sebagai upaya pembinaan olahraga berkuda, di mana selama ini prestasi olahraga berkuda kita menurun," tambahnya.

Event yang telah disepakati Asosiasi Event Organizer Equestrian Indonesia itu agenda tahunan SMA Adria Pratama Mulya, satu-satunya sekolah menengah yang memiliki kurikulum olahraga berkuda. "Asosiasi itu sebagai konsultan penyelenggara, agar pertandingan bisa berjalan dengan baik, berstandart internasional dan terukur, sehingga bisa menghasilkan atlet berkualitas," tukas wanita yang sejak 1964 sudah menjadi atlet berkuda.

Selain kelas-kelas biasa yang dipertandingkan, ada kelas yang paling bergengsi yang dipertandingkan untuk memperebutkan piala dan hadiah yang cukup menarik yakni Marciano Norman Cup. "Mudah-mudahan Bapak Marciano bisa hadir pada tanggal 2 November," kata Watty
Dalam kesempatan yang sama Ketua PB Pordasi Eddy Saddak mengatakan, dirinya berterimakasih atas inisiatif penyelenggaraan event berkuda itu. "Saya ucapkan terima kasih atas pembinaan olahraga berkuda seperti ini. Mudah-mudahan, makin banyak event, maka prestasi olahraga berkuda Indonesia semakin berkembang," harap Saddak.
Harapan yang sama juga dikumandangkan Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman. "Kami mendukung penyelenggaraan Cinta Indonesia 2014. Ini luar biasa, apalagi ini penyelenggaraan yang kedelapan kalinya. Kami berharap dari event ini lahir atlet-atlet hebat," tutur Tono. (Jordan)

KOI Langgar Aturan Main Kemenpora & Satlak Prima

Rabu, 17 September 2014

SECARA sepihak Komite Olimpiade Indonesia (KOI) melakukan pergantian Tim manager Berkuda Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan. Nama Prasetyono Sumiskun yang memiliki SK Satlak Prima sebagai menager Tim Berkuda dicoret sebagai tim manager dan digantikan oleh Asikk pengurus anggota KOI, tanpa sepengetahuan Satlak Prima.
Tindakan yang dilakukan itu menurut Ketua Umum KOI Rita Subowo lantaran Equastrian Federasi Indonesia (EFI) secara organisatoris, belum menjadi anggota KOI, seperti yang diutarakan Prasetyono.
Alasan lain yang sangat krusial menurut pria yang akrab dipanggil Pras itu adalah saat dirinya menghadiri sidang peninjauhan terhadap Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional (UUSKN) oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Mahkamah Konstitusi (MK) pada Agustus lalu.
“Ini tindakan sepihak oleh KOI terhadap diri saya. Saat itu saya hadir sebagai saksi. Atas kehadiran diri saya di MK, Ketum KOI menuntut dirinya minta maaf kepada Rita Subowo,” kata Pras kepada wartawan, di Jakarta, Rabu Sore (17/9).
Pras menambahkan dua alasan itu lah sehingga namanya dicoret oleh KOI. Ia pun gagal menemani atlet berkuda di Asian Games Incheon, Korea. “Tindakan ini sudah keterlaluan, apalagi yang mengganti saya, sama sekali tak mengerti tentang cabang olahraga berkuda,” tandas Pras.
Menurut Pras bahwa dengan kejadian ini, cabor equestrian terancam gagal mendulang emas di Incheon nanti. Pasalnya menejer yang ditunjuk tidak mempunyai pengetahuan dan kompetensi.
Perlu diketahui, jika nama yang sudah tercantum dalam Surat Keputusan (SK) Kemenpora, bika akan diganti maka harus ada pemberitahuan sepengetahuan Dewan Pelaksana Prima yang juga Ketua Umum KONI Tono Suratman.
"Tindakan yang dilakukan, KOI itu diatas jelas melebihi wewenang Kemenpora, ini sangat-sangat menyalahi aturan yang ada," tegas Prasetyono.
Kalau keberadaan EFI yang tidak diakui KOI, menurut Pras mengapa pada pelaksanaan SEA Games 2011 lalu EFI ditunjuk sebagai pihak penyelenggara. Padahal saat itu Indonesia meraih 3 medali emas. Kesuksesan itu masih berlanjut di SEA Games Myanmar dengan torehan 2 keping emas. Dua hasil itu yang membuat cabang berkuda di Asian Games dengan bidikan 1 medali emas.
Namun Pras masih bersedia membantu atletnya yang tampil bantuan dan informas melalui email dan telepon dari Jakarta-Korea Selatan. “Jika dibutuhkan pada suatu saat, atlet meminta bantuan, dengan senang hati saya siap membantu,” terang Pras. (Jordan)

Untuk Kelima Kali Indonesia GP Show Jumping Digelar

Selasa, 13 Mei 2014

SETELAH sempat terhenti di tahun 2013. Hal ini disebabkan karena terjadinya perpecahan di cabang equestrian tersebut. Lalu tak mendapat restu dari Federasi Equstrian dunia. Pentas akbar kompetisi tahunan equestrian Indonesian Grand Prix Show Jumping kembali digelar tahun ini,
"Ya tahun lalu, kami tak menggelar nya. Sebab sedang terjadi kisruh di PB Pordasi, tahun ini 2014 Indonesian Grand Prix kembali kami gelar. Kali ini kami diadakan pada 15 - 18 Mei 2014 di Limo, Depok, Jabar. itu. Sejak 2008 setiap tahunnya kami gelar, namun pada tahun lalu saja sempat terhenti," jelas pendiri dan penyelenggara Indonesian Grand Prix Rafiq Hakim Radinal kepada wartawan di Jakarta, Senin (12/5/2014).
"Ide awal pelaksanaan event ini sebenarnya hanya bersifat festival equestrian, lalu pada 2008 itu kami tingkatkan menjadi kompetisi, dan sekarang kami adakan kembali," ujar Rafiq sambil menjelaskan bahwa Indonesian Grand Prix tahun ini disponsori oleh Acronis.
Masih menurut Rafiq, pihaknya sangat senang kembali menyenggarakan kompetisi show jumping bergengsi ini bergandengan dengan Acronis, selaku partner. "Kami senang bisa bekerja sama dengan pihak sponsor. Kami yakin bahwa kompetisi in bisa lebih mengembangkan olahraga berkuda dan menghasilkan penunggang kuda yang berbakat dan hebat," tandasnya.
Dalam kesempatan yang sama Direktur Pertandingan Indonesian Grand Prix, Alla Poloumieva berharap sajian olahraga berkuda equestrian ini selain menjadi kompetisi bagi para atlet juga dapat memunculkan pertunjukkan hiburan. "Kami berharap ini dapat menciptakan titik temu antara yang terbaik dalam olahraga equestrian, hiburan, serta seni," tutur Alla.
Sementara untuk peserta pihak panitia menargetkan sekitar 300 atlet dan ratusan kuda yang bakal tampil. Menurut Rafiq ajang ini sebagai pemanasan bagi atlet untuk tampil di Pesata Olahraga Nasional yakni PON. Event Indonesian Grand Prix Show Jumping 2014 yang puncaknya akan berlangsung pada 18 Mei, sebelumnya akan dipertandingkan nomor dressage atau tunggang serasi pada tanggal 15 dan 17 Mei mendatang. (Jordan)

EFI Janji Sanggup Terima Tantangan Satlak Prima di AG 2014

Kamis, 23 Januari 2014

SATLAK Prima memberikan warning dan tantangan kepada cabang olahraga yang bakal tampil di jang Asian Games Incheon, Korea Sealatan 2014. Termasuk cabor olahraga ketangkasan berkuda yang dibawah komando Equestrian Federation of Indonesia (EFI). Tantangan itu adalah harus meraih minimal satu keeping emas.
Demikian ditegaskan Ketua Satlak Prima yang baru Suwarno yang menggantikan Surya Dharma. Suwarnolebih lanjut mengatakan pihaknya merencanakan mengikutsertakan sebanyak 18 cabang olahraga ke Asian Games 2014. Dan, hanya cabor yang berpotensi meraih medali yang layak ikut ke Incheon.
"Kami telah menetapakan akan memproyeksikan raihan medali dari 12 cabor antara lain equestrian, wushu, karate, atletik dan boling. Saya ingin equestrian ikut memikirkan hal ini. Pilihlah atlet yang bisa diandalkan. Kalau harus berlatih ke Thailand nanti Menpora akan dukung. Mari satukan mind set kita," tegas Suwarno.
Pada Asian Games nanti, cabang olahraga equestrian akan melombakan tiga disiplin yaitu, dressage (tunggang serasi), show jumping (loncat rintang) dan eventing (tri lomba). Terkait hal itu Efi telah menetapkan 14 penunggang ke Asian Games, 12 diantaranya adalah penunggang yang tampil di SEA Games 2013, dimana Indonesia berhasil merebut 2 emas, 2 perak dan 4 perunggu.
"Kami optimis bakal meraih satu emas di AG 2014 mendatang. Sebab acuannya adalah prestasi di SEA Games 2013 Myanmar lalu. Kami berharap di nomor disiplin dressage. Akan tetapi tak menutup kemungkinan di nomor lainnya," kata manajer timnas equestrian Indonesia di SEA Games 2013, Prasetyono Sumiskum saat ditemui di acara syukuran keberhasilan EFI di pesta olahraga se-Asia Tenggara di Gedung Serba Guna Kompleks GBK Jakarta, Kamis (23/1). Hadir Menpora, Roy Suryo, Ketua Satlak Prima, Suwarno, Ketua Umum EFI, Irvan Gading dan jajarannya serta perwakilan direksi PT Perusahaan Gas Negara (PGN) selaku 'bapak angkat' EFI.
Untuk menjawab tantangan itu EFI telah memprogramkan agenada bahwa akan menggelar pelatihan nasional (pelatnas) di Jerman mulai Februari mendatang. "Guna menjawab tantangan itu, Kami sudah merencanakan akan melaksanakan pelatnas di Jerman. Hal lain yang menjadi kendala adalah masalah kuda. Dalam hal ini kami sudah menyiapkan 4 ekor kuda yang nantinya akan digunakan para atlet di Asian Games,” kata pria yang akrab dipanggil Tion itu.
Saat disinggung mengapa pilihannya jatuh ke Jerman. Prasetyiono menjelaskan karena disana cukup banyak kejuaraan yang bisa kita manfaatkan untuk menggenjot kemampuan atlet. Sementara untuk nomor disiplin, pelatnasnya akan kita laksanakan di Pattaya, Thailand," tegas Tion.
Hal senada disampaikan Sekjen EFI, Triwatty Marciano bahwa EFI optimis meraih satu emas, tentunya persiapan pelatnas di luar negeri.
"Modal kami adalah prestasi di SEA Games 2013 lalu. Namun yang membuat kami lebih optimis adalah sinergitas komunitas equestrian dan pemerintah, kami yakin bisa menjawab harapan dan tantangan dari Satlak Prima," tegas Triwatty. Menpora Roy Suryo yang hadir dalam acara syukuran itu megatakan bangga dengan prestasi yang ditorehkan timnas eqiestrian Indonesia di SEA Games 2013.
"Saya bangga dan berterimakasih kepada para atlet equestrian yang telah berhasil menyumbangkan 2 emas, 2 perak dan 4 perunggu. Pesan saya, tingkatkan prestasi. Jangan berpuas diri tetapi buktikan lagi bahwa kalian juga mampu berprestasi di Asian Games," kata Menpora.
Roy menambahkan bahwa kita harus bisa mengikuti jejak sukses yang telah diukir oleh saudara-saudara kita yang berhasil membawa Indonesia menjadi juara umum untuk pertama kalinya di kancah Para Asean Games 2013 di Myanmar. Insya Allah, equestrian bisa menjawab tantangan yang diberikan Pak Suwarno (Ketua Satlak Prima-red) untuk merebut minimal 1 emas di Asian Games 2014.
Pada saat yang bersamaan dilakukan pemberian tunjangan prestasi kepada atlet equestrian yang berhasil merebut emas dan perak di SEA Games 2013. Mewakili Direksi PT Perusahaan Gas Negara, Riza Pahlevi (Direktur Keuangan) menyerahkan bantuan tunjangan prestasi masing-masing Rp 30 juta untuk atlet peraih emas dan Rp 20 juta untuk peraih perak. (Jordan )

Kejuaraan Ketangkasan Berkuda Pangdam Jaya

Minggu, 24 November 2013

KEJUARAAN Equestrian Piala Pangdam Jaya sudah menyelesaikan beberapa nomor dalam dua hari yakni Jumat dan Sabtu (20-21/11) di Arena Pacuan Kuda Pulo Mas, Jakarta Timur. Terlihat tingkat persaingan sangat ketat, terutama untuk kelas pemula dan junior. Event yang diikuti sekitar 360 rider daru delapan daerah. Peserta mewakili klub yang berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Riau, Kalimantan Selatan, Sulut dan Maluku Utara.
Dua hari pelaksanaan yakni Jumat dan Sabtu, sudah menyelesaikan sebanyak 15 nomor. Yakni, lima dari 'dressage' atau tunggang serasi, dan 10 dari lompat rintangan (show jumping). Untuk sementara Stable Aragon Horse Riding & Equestrian Club dan Pegasus Stable mendominasi peraihan gelar juara. Aragon mengoleksi lima emas, tiga perak dan dua perunggu.
Mereka hanya unggul tipis dari Pegasus yang membukukan lima emas, dua perak dan satu perunggu. Siapa yang akhirnya akan menjadi peraih medali terbanyak atau merebut gelar juara umum, pastinya akan ditentukan dari perolehan medali hari Minggu ini.
Dari 15 nomor yang sudah dituntaskan, hanya lima yang gelar juaranya direbut bukan oleh 'rider' Aragon dan Pegasus. Yakni, di "dressage' walk-trot anak-anak (Akbar Kurniawan/Micheline Club), preliminary dewasa (Albert Pelealu/Ariyanto Arnaldo Stable), serta 'jumping' 50-70 cm dewasa (Agung Riyanto/Cahaya Bulan Equestrian), 50-70 cm anak-anak (Shafa Mus/Taliabo Stable), dan 70-90 cm yunior (Dwiputri Sita Hapsari/Anantya Riding Club).
Kejuaraan ini dibuka oleh Kasdam Jaya Brigjen TNI Agung Risdhianto, ia menyatakan kejuaraan tersebut diselenggarakan dalam rangka memeriahkan HUT KODAM JAYA ke-64. Kejuaraan ini merupakan kalender kegiatan yang sudah diagendakan setiap tahun.
“Event ini merupakan kegiatan rutin setiap tahun itu, bertujuan memajukan olahraga berkuda di Jakarta khususnya dan di Indonesia umumnya. Kami juga ingin agar lomba ketangkasan ini dikenal di masyarakat dan para atlet Indonesia dapat berprestasi setara dengan negara tetangga, bahkan berprestasi di tingkat internasional.
Sementara itu H.M.A.S. Alex Asmasoebrata, selaku pengurus daerah Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pengda Pordasi) DKI Jakarta, kejuaraan pacuan kuda Pangdam Jaya Cup kali ini berbeda dengan even sebelumnya, “Event ini akan menjadi kalender tetap. Untuk DKI ajang memantapan guna persiapan menuju PON 2016 mendatang,” kata Alex kepada wartawan. (Jordan)

EFI Gelar Gading Open 2013 di Parompong

Selasa, 19 November 2013

KEJUARAAN Berkuda nomor Equestrian Gading Open 2013 akan digelar di Detasemen Kavaleri Berkuda Parongpong, Jawa Barat, 22-24 November. Event ini adalah gawean Equestrian Federation of Indonesia (EFI). Selain itu juga akan mempertandingkan Final FEI World Cup Jumping SEA League serta kualifikasi Asian Games 2014 di Incheon, Korea.

Menurut President Event Tha Gading Open Larasati Gading, bahwa kejuaraan kali ini terasa istimewa karena merupakan gelar pamungkas olahraga equestrian di Indonesia. ”Karena event ini merupakan final SEA League. Sehingga kami mengundang peserta dari ASEAN. Even ini sekaigus sebagai ajang pencarian poin. Kami pun mendatangkan juri dari negara ASEAN,” jelas Larasati kepada wartawan di Jakarta, Senin (18/11/2013).

Istri dari Ketua EFI Irvan Gading ini, menambahkan, ajang ini juga digelar dalam rangka persiapan para atlet Indonesia yang akan bertanding di SEA Games Myanmar. “Ajang ini sebagai persiapan akhir sebelum mereka berangkat ke Myanmar,” tambah wanita berdarah Jerman ini.

Dipastikan 150 atlet akan mengikuti kejuaraan ini. Pihak penyelenggara juga mengundang sejumlah wasit international seperti Fuangvich Amruth Deva(Thailand), Chalermchan Yotviriyapanith (Thailand), dan Eu Jeung Lee (Korea).

The Gading Open yang juga merupakan Final FEI World Jumping SEA League ini merupakan ajang pembuktian siapa yang akan menjadi atlet terbaik ASEAN yang akan mengikuti FEI Rolex World Cup Jumping Final di Swedia tahun depan.

Menurut Manajer Tim cabang equestrian SEA Games 2013 Prasetiono Sumiskun, bahwa seleksi untuk atlet Pelatnas sudah final. Beberapa atlet nasional akan tampil di event ini. “Event ini adalah kesempatan buat pemanasan bagi atlet SEA Games. Kami berharap mereka bisa tampil maksimal,” tandas pria yang akrab dipanggil Tion ini. (Jordan)


BOLA JERMAN

FIGUR

TINJU

RAKET

BASKET